Selasa, 19 Maret 2019

Dua Juta Lebih


Aktif di gerakan sosial mempunyai tantangan tersendiri. Bersifat kerelawanan. Menyediakan waktu yang ada untuk berbagai kebutuhan dan kegiatan lainnya di akhir pekan. Prioritas kegiatan keluarga karena hanya di Hari Sabtu dan Ahad bisa ketemu. Selanjutnya berupaya untuk terlibat dalam gerakan sosial.

Setelah mengikuti Orientasi Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Bandung di bulan Januari 2019, kegiatan yang diikuti baru satu kali, yaitu setelah adanya musibah banjir di Pasirjati Komplek Perumahan Jati Endah Regency. Musibah yang terjadi hari Ahad, 10 Februari 2019 itu, antara lain menyebabkan 6 rumah rusak total dan 3 orang meninggal dunia.

Musibah tersebut menimpa saudara sepupu dari garis kakek. Rumah di Blok B-8, hanya menyisakan teras dan kamar depan. Sementara atap dan bagian lainnya, tergerus hancur oleh air bah yang menyapu pondasi rumah dari bagian belakang.

Senin 11 Februari 2019, berkesempatan berkunjung ke lokasi musibah. Tim Basarnas dan Relawan dari berbagai organisasi, berjibaku membersihkan area dari tumpukan lumpur dan berbagai sampah. Beberapa Tim Relawan yang berada di lokasi, antara lain Dompet Dhuafa, Daarut Tauhid, ACT, TNI, Polisi, PU, dll.

Secara bertahap, kegiatan pembersihan rumah bergerak satu demi satu. Sebelum pembersihan, semua tim mengeluarkan kendaraan motor dan mobil yang terendam banjir yang berada di teras rumah.
Truk hilir mudik mengangkut endapan lumpur dan sampah untuk dibawa keluar dari lokasi. Hingga ba'da Dhuhur, rumah Blok-8 mendapat giliran untuk dilakukan pembersihan. Meski tanpa persiapan yang baik (tidak pake sepatu booth, sarung tangan dan topi), sy coba bantu untuk angkat dan angkut memindahkan barang2 yang masih bisa dipakai.

Aksi kedua, berpartisipasi dalam kegiatan penggalangan dana sebagai bentuk peduli terhadap peristiwa penembakan terhadap muslim yang sedang mempersiapkan diri untuk shalat Jumat di dua masjid di Selandia Baru. Aksi Peduli Selandia Baru dilaksanakan di acara Car Free Day di sepanjang jalan Dago (Jalan Ir. H. Djuanda). Berangkat pake kemeja (salah kostum, harusnya kaos dan pake sapatu olah raga), tiba di lokasi 5 menit menjelang pukul 6 pagi di seputaran RS Santo Boromeus.  

Dokpri

Ternyata pake kemeja bisa disebut malah tepat karena dalam aksi penggalangan dana diperlukan penampilan yang pas. Penampilan yang setidaknya dapat lebih meyakinkan warga/ummat untuk tergerak ikut berdonasi.

Selanjutnya adalah atribut lembaga sebagai hal yang sangat penting, seperti Topi, Rompi, Kaos, PIN, dan Sunduk (Kantong untuk menerima uang donasi, berasal dari Bahasa Arab). Tak kalah penting, adalah spanduk dan banner. Jangan lupa dengan pengeras suara berupa Sound System mobile. Jangan ketinggalan juga, tali plastik (rafia) untuk mengikatkan spanduk.

Sebelum dimulai, diadakan breafing oleh Korlap, Teh Fuji. Dijelaskan maksud dan tujuan dari Aksi. Setiap personil harus bisa menjelaskan maksud dan tujuan aksi jika ada warga yang bertanya, meskipun sebenarnya sudah dapat diketahui informasinya yang sudah tertuang dalam banner dan spanduk. Teh Fuji membagi tugas setiap personil. Riyan berorasi. Bekti pegang Sunduk. Iqbal dan Fadly pegang banner. Zae pegang spidol. Teh Rina jaga titik lokasi. Aku? Bawa muter soundsystem.

Muter di sepanjang jalur CFD, berorasi dan mengajak berdonasi, membuat warga yang hadir jadi tertarik. Apalagi ketika takbir beberapa kali dikumandangkan.

Beberapa warga yang duduk di median jalan sambil menikmati panggung musik di beberapa titik tertentu, menjadi target untuk didekati, diberi info dan diajak untuk peduli terhadap peristiwa di Selandia Baru itu. Alhamdulillah ada yang merogoh sakunya, mengeluarkan dompetnya dan memasukkan rupiahnya. Senang bangettts ada warga yang langsung tergerak seperti itu.

Dokpri

Setelah muter di dua lajur yang berbeda, selanjutnya berkumpul kembali di titik lokasi. Spanduk penggalangan tanda tangan terhampar di pinggir jalan. Spanduk peduli Selandia Baru terbentang dipegang oleh dua orang yang berdiri di antara dua pohon (Lupa talinya).

Sesekali didekati warga atau komunitas lainnya untuk mampir dan membubuhkan dukungannya di spanduk penggalangan tanda tangan. Warga dan komunitas yang mampir, antara lain Pahlawan Animasi, yaitu Spiderman. Berikutnya komunitas KEBUMIAN dari ITB yang melakukan aksi Gerakan Pungut Sampah (GPS), GMKI, Aksi Peduli Palestina, dll.

Hal lain yang seru, adalah menjadi model untuk pengambilan gambar oleh Photografer yang entah kenapa lupa untuk ditanyakan dari media manadia berasal. Beberapa kali gaya dan pose dia jepret. Berjajar berdua. Kemudian bertiga. "Eit...stop dulu... hp jangan dipegang...dimasukin dulu ke saku", kemudian...jepret..jepret...

Aksi Peduli Selandia Baru saat itu, terkumpul dana lebih dari 2 juta.  

Kamis, 07 Maret 2019

Menghijaukan Rumput di Halaman Sendiri (5)






Tidak bisa hanya bertutur dengan kalimat perintah. Tidak cukup hanya bergerak dengan jari telunjuk. Harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ditemani secara langsung. Itu sebagai bukti bahwa kalimat perintah juga kembali mantul terdengar di telinga kita. Itu sebagai fakta bahwa empat jari yang lainnya juga mengarah pada badan kita. Akan lebih baik jika dilakukan secara bersama-sama dan akan lebih indah jika ditemani. 

Dinamika bersama masyarakat, berbeda dengan keluarga dan dunia kerja. Bersama masyarakat adalah menahan laju kalimat perintah dan membendung licahnya telunjuk. Bersama masyarakat adalah membangun keyakinan untuk dapat berbuat lebih, beda dan terbaik karena semua mempunyai potensi dalam lingkup yang lebih besar. Bersama masyarakat adalah membentuk konsistensi untuk terus melanggengkan gerakan dalam membangun kampung dan membuat bahagia warganya.

Membangun kampung dan membuat bahagia warganya sejatinya sudah menjadi bagian dari kewajiban pemerintah melalui APBD. Kewajiban tersebut ditunaikan oleh pemkot Bandung, melalui program PIPPK (Program Inovasi Pemberdayaan Pembangunan Kewilayahan), pemprov melalui DAK, dan pusat, antara lain melalui KOTAKU. Namun semuanya terbatas dan perlu waktu sehingga gerakan swadaya harus muncul sebagai upaya nyata dan langsung untuk ‘mengubah’ wajah kampung. 

Gerakan swadaya itu sudah muncul dari dulu. Gerakan yang lahir dari budaya luhur sebagai kearifan lokal. Perpanjangan dari gerakan gotong royong. Gerakan yang dikenal dengan nama generik ‘udunan’, ‘perelek’, ‘rereongan sarupi’ dan kemudian diformalkan sebagai Iuran Warga. Gerakan yang sejatinya dapat dimaknai sebagai perwujudan ibadah karena hal tersebut juga bagian dari ‘sedekah’.

Iuran Warga di lingkungan RW 11 Sukalaksana kelurahan Cicaheum Bandung, berjumlah Rp. 12.000 per KK. Terdapat beberapa warga, pemilik kostan dan atau perusahaan yang bertindak sebagai donatur dengan iuran yang lebih besar sesuai kesanggupan. Total dalam sebulan terkumpul rata-rata Rp. 5.000.000. Selanjutnya dana tersebut dialokasikan untuk honor petugas kebersihan Rp. 1.400.000 plus bensin Rp. 100.000, honor keamanan Rp. 1.250.000, dan biaya TPS Rp. 650.000. Dana tersebut juga diberikan sebagai subsidi untuk PKK, Posyandu, Posbindu, Urban Farming, dan Unit Bank Sampah dengan besaran mulai dari Rp. 50.000 hingga 150.000. Dana sisa, kemudian dialokasikan untuk Kas RW, Kas RT dan Kas Kerohiman. Berulang demikian setiap bulan dan sepanjang tahun.

Bagaimana dengan drainase yang mampet? Juga kondisi jalan gang yang berlubang-lubang? Bagaimana juga dengan area lapangan yang tidak terawat, pos RW dan posyandu yang sudah pudar warna dindingnya, gerbang kampung yang perlu dicat kembali, motor Triseda pengangkut sampah yang perlu perbaikan dan kebutuhan lainnya? Tidak ada jalan, mengajak warga untuk udunan (bersedekah).

Gerakan bersedekah itulah yang mendorong pembuatan taman di area bekas konveksi kaos kaki lingkungan RT 1 RW 11. Diawali kegiatan gotong royong di hari Ahad, 18 Nopember 2018 dengan membersihkan rerumputan dan sampah yang ada, kegiatan tersebut terus menggelinding jadi sebuah tekad untuk membuat taman. Hampir setiap akhir pekan di hari Sabtu dan Ahad, serta hari libur, area tersebut terus dibenahi. Di hari kerja, kegiatan dilakoni tukang secara bertahap sesuai dana yang tersedia. Pembuatan taman selanjutnya dilengkapi dengan berbagai fasilitas mulai dari penyediaan bangku tempat duduk, area ban, kolam ikan, area batu terapi, hingga ayunan. 

Ajakan bersedekah terus dilancarkan ke berbagai pihak, baik warga setempat, maupun warga RW 11  yang sudah bermukim di daerah lain, bahkan teman dan saudara. Partisipasi warga mulai dari ide, tenaga, material, konsumsi hingga dana, terus mengalir. Anak-anak yang bahagia karena ada kola ikan, mereka menyisihkan uang jajannya untuk beli ikan. Remaja masjid tidak mau ketinggalan ikut mengecat lantai ayunan. Karang taruna membuat mural bertema olah raga Basket, meskipun hanya kaosnya saja. Ibu-ibu di sekitar taman beberapa kali menghidangkan botram dengan menu favorit : tahu, tempe, jengkol, sambal dan kerupuk.

Terkumpul dana swadaya lebih dari Rp. 8.000.000 yang berasal lebih dari 60 warga yang memberikan donasi. Swadaya material yang didonasikan warga antara lain cat, semen, pasir, kayu, bata, besi, dll. Warga juga berdonasi untuk pengelasan ayunan, pengecatan, pemasangan lampu taman, dll. Pembuatan taman tidak menggusur dan menjauhkan aktivitas yang sebelumnya ada, yaitu menjemur burung dan menjemur pakaian. Area menjemur burung, dipusatkan di depan bagian selatan. Sementara area menjemur pakaian, dipindahkan ke bagian belakang taman. 

Taman itu belum usai. Saungnya belum ada. Pelosotannya belum terbeli. Paving juga masih bertahan di toko material. Rumputnya juga baru ditanam pada hari Ahad, 19 Januari 2019, dan belum menyebar merata. Meski demikian, keberadaan taman sudah mendatangkan manfaat. Di pagi hari sebelum matahari menyengat, sudah ada seorang ayah dengan anaknya bermain ayunan. Beranjak beberapa jam kemudian, anak-anak lainnya asyik main di area ban, asyik menyaksikan ikan di bawah kicauan burung dan bergantian main ayunan. Siang hari saat terik, taman pun sepi. Hanya ada satu dua anak yang nekad main ayunan. Sesekali taman menjadi titik pertemuan antara OJOL dengan penumpaangnya. Taman ramai kembali di sore hari. Ibu-ibu asyik ngerumpi di teras selatan. Sementara anak-anaknya bermain ayunan. Di malam hari, giliran bapak-bapak dan karang taruna yang menjadi taman sebagai alternative untuk berkumpul.

Selasa, 12 Februari 2019

SABASA

bergerak untuk sebuah perubahan akan terasa ringan jika dilaksanakan secara bersama-sama. gerakan yang diawali dari pengenalan sebuah program. kemudian tergerak mengajak teman dan kerabat untuk peduli dan berbagi. menjadi jembatan. jembatan yang menghubungkan antara dua pihak. moga menjadi kebaikan untuk semua.

 
 
 
 
 
 















Jumat, 22 Desember 2017

10


Pertengahan Agustus 2016, koran lokal Bandung, mengabarkan tentang program Lumbung Desa. Ada peluang bagi 10 desa untuk mengikuti program tersebut. Tersisa waktu 3 hari (13-15 Agustus 2016), hingga pendaftaran dan pengajuan proposal. Sabtu pagi hingga sore, saya optimalkan dengan pengumpulan data, pengamatan berbagai potensi lokal melalui wawancara singkat dan pengambilan gambar di beberapa titik. Malamnya diskusi dengan kepala desa beserta perangkatnya. Disampaikan dokumen draft  untuk pengajuan program Lumbung Desa (hasil kebut semalam pada hari Jumat). Ahad pagi hingga siang, dilanjutkan kembali pengamatan kondisi dan potensi lokal. Hari berikutnya, 14 Agustus 2016, dokumen selesai dan diterima oleh pihak Sinergi Foundation.

Penghujung Agustus 2016, pihak Sinergi Foundation mengundang 30 orang perwakilan dari setiap desa untuk mengikuti Seminar dan Visiting selama tiga hari. Peserta sebagian besar dari Jawa Barat. Peserta lainnya dari Jawa Tengah, Yogya, Jawa Timur, Riau dan Sulawesi. Kegiatan seminar selama dua hari, diisi beberapa narasumber, yaitu : Ahmad Erani Mustika (Kemendes), Erie Sudewo (Pendiri Sinergi Foundation), Ibu Ina (Ina Cookies), Bapak Jodi Iswanto (Penggerak Lumbung Desa di Cianjur), M. Yayan Royan (Praktisi/Kelompok Tani dari Tasik), Hastjarjo (Desain Tata Ruang), dan Baban Sarbana (Pendiri Yatim Online). Hari ketiga seluruh peserta mengikuti visiting ke Lumbung Desa Cigalontang di Kabupaten Tasikmalaya, melihat capaian/kegiatan Lumbung Desa Cigalontang yang mulai berdiri sejak tahun 2015.

Pada 1 November 2016, pihak Sinergi Foundation melakukan survey ke Desa Ciwangi. Diterima oleh Sekretais Desa dan Kepala Dusun, kunjungan dilanjutkan ke kampung Poronggol RW 7 untuk menggali berbagai informasi tentang kegiatan kelompok tani. Jelang sore, tim dari Sinergi Foundation kembali ke Bandung. Dua minggu kemudian, informasi dari tim survey menyatakan bahwa Desa Ciwangi tidak siap untuk menjalankan program Lumbung Desa. Sementara waktu, hasil itu diterima. Tapi beberapa hari kemudian, muncul sebuah keyakinan bahwa masyarakat Desa Ciwangi akan berada di suatu titik dengan kondisi yang siap untuk menerima dan menjalankan program Lumbung Desa.


Berikutnya dilakukan loby ke pihak Sinergi Foundation dengan mengajukan skema tahapan penyiapan masyarakat untuk menjalankan program Lumbung Desa. Penyiapan masyarakat direncanakan dalam 8 kali pertemuan/kegiatan yang kemudian berkembang menjadi 10 kali pertemuan, yaitu : 1. Sosialisasi, 2. Membangun Visi, 3. Membentuk Kelompok, 4. Pemetaan, 6. Survai Kampung Sendiri, 6. Kajian dan Analisa 5 Aset, 7. Pembelajaran Lumbung Desa Cigalontang, 8. Perumusan Program, 9. Prioritasi dan Rencana Aksi, 10. Musyawarah Desa dan Pembentukan Lumbung Desa. Tahapan tersebut diadopsi dari pembelajaran Siklus P2KP/PMPM/Kotaku. Pihak Sinergi Foundation memfasilitasi pembiayaan dalam tahapan penyiapan tersebut. Pembiayaan dikelola bersama dan dialokasikan untuk konsumsi, ATK, kaos peserta, stiker dan spanduk Kelompok Tani (Poktan). Poktan pun berswadaya dalam setiap pertemuan.

Pertemuan dilaksanakan setiap minggu di akhir pekan, hari Sabtu atau Ahad. Pertemuan dimulai awal Januari hingga akhir Maret 2017. Pertemuan sempat tertunda tiga kali karena ada kegiatan di masyarakat, antara lain kegiatan ulang tahun kabupaten Garut. Pertemuan diikuti oleh dua hingga empat orang perwakilan dari setiap kampung. Pertemuan umumnya dilaksanakan di madrasah yang berdekatan dengan masjid, dan dilaksanakan bergilir di setiap kampung yang terdapat di tiga dusun. Pertemuan diisi materi sesuai tema, diselingi tayangan film motivasi, permainan, nyanyian, aksi bersih-bersih di sekitar tempat pertemuan dengan GPS (Gerakan Pungut Sampah), penanaman pohon, makan siang bersama, sholat berjamaah dan doa. Dalam beberapa kali pertemuan, peserta yang rajin dan disiplin mendapat hadiah berupa kalender, buku, pulpen, atau makanan/minuman. Dalam pertemuan ke-10, dipilih dua peserta yang paling rajin dan mendapat hadiah berupa dana pembinaan.

Pada pertemuan pertama, seluruh peserta membacakan teks deklarasi, berkomitmen untuk menjalankan program Lumbung Desa sebagai satu upaya untuk mengubah dan memajukan Desa Ciwangi. Dalam pertemuan berikutnya dikuatkan kembali, bahwa pertemuan yang sedang dan akan dijalani hingga tuntas, tidak semata dipandang dan dinilai sebagai persiapan untuk mendapatkan program Lumbung Desa. Di akhir pertemuan, setiap peserta mendapat tugas atau PR yang harus dikerjakan oleh peserta beserta poktan di kampungnya. Dalam pertemuan ke-9, peserta diberi amanah untuk menyampaikan titipan dari donasi berupa bantuan pengadaan Al-Qur’an, buku Iqro, buku Doa, buku cerita dan majalah anak-anak untuk disampaikan ke pengurus masjid. Sementara di pertemuan ke-10, setiap peserta diberi amanah berupa bantuan bibit tanaman dan pupuk serta spanduk poktan.

Selepas pertemuan di tingkat desa, setiap peserta menyampaikan hasilnya dalam  pertemuan di kampungnya.  Dalam pertemuan tersebut, muncul beberapa gagasan yang kemudian direalisasikan bersama masyarakat. Beberapa kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan dari Januari 2017 hingga saat ini, antara lain : mengaktifkan kembali penghimpunan bantuan sosial untuk warga berupa beras (RW 3,5, dan 11),  gotong royong, pembuatan nama jalan/gang (RW 3 dan 11), pemasangan lampu jalan/gang (RW 8), kegiatan pra bank sampah (RW 1 dan 8), membersihkan jalur dan sumber mata air (RW 1 dan 5), membantu mengolah sawah (RW 3 dan 5), penghijauan (RW 3 dan 5), rehab rumah (RW 1, 2, 3, 5 dan 8, pendirian SD/MA (RW 7), pembuatan saung poktan (RW 1 dan 5), penghimpunan pembayaran listrik (RW 2, 5 dan 8), dan rehab masjid (RW 1, 3, 5, dan 10). Saat ini sedang dirintis rehab masjid di RW 4 dan 8, serta perbaikan saluran air di RW 5.

Selepas terbentuknya pengurus Lumbung Desa, pihak Sinergi Foundation melanjutkan pendampingan dengan kunjungan secara berkala. Hasil dari beberapa kunjungan yang dimulai di awal April 2017, akhirnya di bulan Juli 2017 disepakati 3 poktan yang mendapatkan bantuan pertama dari Sinergi Foundation, yaitu Poktan Saluyu (RW 1 Dusun 1) senilai 32 juta, Sejahtera (RW 5 Dusun 2) senilai 25 juta dan Poktan Kerta Rahayu (RW 7 Dusun 3) senilai 14 juta. Ketiga Poktan tersebut dinilai dari Tiga A, yaitu Absen, Akses dan Aksi. Absen berkaitan dengan tingkat kehadiran poktan dalam setiap pertemuan, Akses berhubungan dengan komunikasi di internal poktan dan tingkat desa, serta Aksi berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan poktan (pertemuan rutin, tabungan, peduli lingkungan, sedekah, dll).

Bantuan dana digunakan untuk pengadaan sarana dan peralatan pertanian, benih padi dan pupuk.  Bantuan tersebut harus bergulir dan dikembangkan untuk masyarakat di RW masing-masing. Bantuan diterapkan secara syar’i.  Poktan memberikan pelayanan terhadap anggota poktan dan petani di luar poktan. Tidak ada bunga atas pinjaman berupa benih atau pupuk. Sementara untuk penjualan, diberikan harga yang lebih rendah dari harga pasar atau minimal sama dengan toko di desa. Laba yang dihasilkan, dialokasikan untuk operasional, tambahan modal dan sedekah. 

Pendampingan terus dilakukan oleh Sinergi Foundation dengan tahapan Persiapan, Pra Lumbung Desa, Lumbung Desa, Pengembangan Lumbung Desa, Desa Mandiri, dan Desa Wisata. Pendampingan antara lain dilakukan dalam kunjungan secara periodik dan menetap 1-2 hari di lokasi Poktan. Pihak Sinergi Foundation juga telah menyalurkan bantuan Bingkisan Lebaran untuk Petani dan Bantuan Kambing Kurban yang dikerjasamakan dengan pengurus lumbung desa dan poktan.


Senin, 27 Februari 2017

Desa Ciwangi Membangun

Desa Ciwangi Kecamatan Balubur Limbangan Kabupaten Garut, mencoba berbenah. Bangkit bergerak untuk membangun. Mencoba untuk mengadakan perubahan. Berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun kemandirian dan kedaulatan pangan dalam Program Lumbung Desa dari Sinergi Foundation. Pembelajaran dilakukan dengan 8 kali riungan, yaitu :
1. Sosialisasi
2. Membangun visi
3. Membentuk kelompok
4. Pemetaan
5. Survai & Pendataan
6. Kajian hasil survai
7. Analisa, perumusan program dan prioritasi kegiatan.
8. Musyawarah Desa.

Berikut dokumentasinya.





Selasa, 07 Juni 2016

Bisa Jadi Sarjana



Ikatan persaudaraan bisa terbangun dengan berbagai corak dan warna. Persaudaraan yang tumbuh berdasarkan agaman, suku, daerah, tempat pendidikan, pekerjaan, dll. Persaudaraan yang semakin berkembang dengan berbagai output yang positif, tidak dapat dipandang sebelah mata dan sama sekali tidak ada. Sementara di sisi lain, persaudaraan yang memunculkan output negatif pun, tak dipungkiri bukannya tidak ada. Adalah sebuah harapan, persaudaraan yang ada merupakan pilihan dengan kesadaran untuk saling mengisi dan berbagi membangun negeri.

Merantau begitu tamat SMK (setara SMA), diambil sebagai keputusan yang sangat berani. Tidak tanggung-tanggung, merantau jauh ke Indonesia bagian tengah. Menempuh perjalanan panjang selama 1 minggu dari barat menuju sebuah harapan di tanah orang, di bagian lain NKRI. Sebuah tekad disematkan mendalam di hati sanubari, bisa dapat pekerjaan di pulau berbentuk huruf K.

Kala senja di penghujung reformasi, tahun 1998, sebuah kapal berlabuh di kota di bagian tengah Indonesia. Seorang penumpang remaja tanggung berperawakan kecil, penuh semangat menuruni tangga menginjak dermaga. Bertanya kepada beberapa orang, diketahui bahwa menuju pusat kota dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam, memerlukan ongkos sejumlah Rp. 15.000, sementara dompet lusuhnya, menyisakan lembaran uang sejumlah Rp. 10.000. 

Adu tawar dilakukan dengan seorang sopir angkot yang sedang mencari penumpang. Sopir angkot bersedia menerima ongkos dengan uang yang tersisa. Tas pun langsung disimpan di dalam angkot. Sang sopir sibuk kembali mencari penumpang lainnya untuk menggunakan jasanya. Teriakannya diarahkan kepada penumpang yang sedang berduyun-duyun menuruni anak tangga dari kapal. 

Asyik mengamati berbagai tingkah dan kejadian yang ada di hadapannya, sekilat kemudian datang menghampiri seorang lelaki berperawakan tinggi. Seorang sopir yang mau menjemput majikannya. Ditanyanya tentang kapal yang sedang berlabuh. Kemudian ditanyanya daerah asal, mau apa, mau ketemu siapa, hingga akhirnya berujung dengan penggunaan bahasa yang sama, karena berasal dari daerah yang sama

Buahnya, batal naik angkot. Beralih ke mobil dengan sopir tadi dan bersama majikannya. Bahkan, remaja tersebut bermukim dan sekaligus bekerja di majikan yang kemudian dipanggilnya Om itu. Bekerja di sebuah rumah makan.

Beranjak dengan tugas di bagian belakang, sebulan kemudian maju ke bagian depan sebagai pramusaji yang membawakan makanan dan minuman untuk pada pengunjung. Dari sekian pengunjung yang umumnya juga orang yang memiliki selera yang sama, ada pengusaha bengkel yang mengajak untuk bekerja di bengkelnya. Tawaran itu diterimanya karena sesuai dengan pendidikan yang pernah dienyamnya, yaitu SMK jurusan otomotif. Setelah mendapat izin dari Om Rumah Makan, tempat berlabuhnya kemudian pindah ke Om Bengkel.

Bekerja penuh hati menjadi montir, memunculkan sebuah tawaran dari Om Bengkel pada dirinya untuk kuliah di sebuah universitas negeri di kota tersebut. Tawaran itu dijalaninya dengan mengikuti seleksi dan akhirnya diterima di Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan. Maka kesehariannya dijalani dengan lebih beragam. Pagi kuliah, siang dan sore membengkel. Kadang sebaliknya, pagi di bengkel, siang dan sore di kampus. Perjalanan ke kampus, diantar oleh angkot milik Om Bengkel. Sekali dua kali, peran berganti. Ada sopir angkot yang berhenti. Kerja di bengkel dihentikan, berubah menjadi sopir angkot. Jika kuliah, jadilah angkot itu pun mangkal di kampus.

Suatu waktu, berjumpalah dengan seorang pengusaha yang sedang melakukan pengembangan di Kota kecil tersebut. Berawal dari antar jemput dari dan ke hotel, diselingi diskusi kecil, pengusaha tadi rupanya tertarik dengan berbagai solusi yang dianjurkan oleh pemuda itu untuk mengatasi persoalan yang dihadapi perusahaannya. Dimintanya untuk menjadi kepala perwakilan di Kota itu. Kemudian direkrutlah karyawannya. Di luar dugaan, perusahaan itu maju dan berkembang cukup pesat. Usaha lain pun diraihnya. Masuk ke usaha pengolahan hasil bumi. Mendadak gaya hidupnya berubah drastis. Menjadi pemuda yang berjaya di tanah rantau. Rumah, mobil dan motor, bisa dibelinya. Lima kawan kuliahnya, ditampung di rumahnya. Kebutuhannya, dipenuhinya. Mulai dari biaya makan, kuliah, hingga kehidupan malam di setiap pekan.  

Keadaan yang sedemikian, tidak lantas melupakan diri dari tekadnya untuk menuntaskan kuliahnya. Jelang ujian akhir di penghujung tahun 2002, usahanya dipercayakan pada karyawannya untuk dikendalikan selama kurang lebih 2 minggu. Sementara dirinya fokus pada kuliah. Apa disangka, semua di luar dugaan. Semua kembali ke titik NOL. Bahkan jungkir balik menjadi minus. Karyawan yang diberinya kepercayaan, melakukan berbagai penyimpangan. Habis semuanya. Menjadi gembel di jalanan kota, sempat dijalaninya. Hingga akhirnya, dia berlabuh kembali ke Om Bengkel.

Menjadi sopir angkot lagi dan penuh semangat menuntaskan kuliah, tersisa ujian praktek, penelitian, penyusunan skripsi, sidang dan wisuda. Ujian praktek dan penelitian menjadi kendala berat yang dihadapinya. Dua hal dengan biaya yang cukup besar. Tapi nikmat selalu datang menghampirinya. Ujian praktek dan penelitian secara tidak langsung dibiayai oleh dosennya yang sedang menempuh pendidikan S-3. Dosen perempuan dari Bali itu, seolah menjadi perahu yang membawanya berlayar ke pulau harapan. Diceritakannya bahwa dia seorang perantau, hidup di kontrakan, jadi sopir angkot, punya anak dua, tapi bertekad jadi SARJANA. Bahkan permintaan agar dosen pembimbingnya adalah Dosen A, B dan C, dikabulkan oleh Dosen tersebut. 

Kuliah dijalaninya 24 SKS/semester dengan 6 – 7 mata kuliah. Menurut pandangan teman-temannya, hal tersebut terlalu banyak. Apalagi dirinya jarang masuk karena narik angkot atau sibuk di bengkel. Tapi prinsinya dibenarkan. Jika dia ambil 5 mata kuliah, sementara yang lulus 3 kuliah, maka rugi yang dialaminya. Jadi lebih baik diambil 7 mata kuliah, kemudian hasilnya 5 mata kuliah dinyatakan lulus, meskipun akhirnya harus mengulang 2 mata kuliah. 

Teman-teman di kampus cukup banyak membantunya. Bahkan mereka pun sempat mendeportasi seorang dosen KILLER. Dosen yang sering mengumpat dan marah-marah. Keputusan pun diambil. Tidak boleh berkepanjangan. Harus ada tindakan. Semua mahasiswa 1 kelas, sepakat membawa badik. Ketika dosen itu masuk kelas, kemudian menanyakan tugas yang harus dilaksanakan oleh mereka, dan ditanggapi bahwa tugasnya belum selesai, seketika amarah dan umpatan itu muncul. Maka seketika itu pula, Pemuda tersebut maju dengan mengacungkan badik. Meletakkan badiknya di meja. Sementara mahasiswa lainnya, mengacungkan badiknya masing-masing. Sang dosen langsung pucat. Terdiam. Sebentar kemudian, ditinggalkannya kelas itu. Beberapa waktu berganti, sang dosen dimutasi ke tempat lain. Sementara dirinya mendapat skorsing 2 minggu.

Memasuki akhir kuliah, penyusunan skripsi ditempuhnya dengan cepat. Skripsinya langsung disusun secara lengkap dari bab awal hingga bab akhir. Konsultasi dengan pembimbing pun, draft skripsinya dibawa lengkap tidak diajukan per bab. Taktik jitu dijalankan.  Koreksi dari pembimbing satu, tidak lantas diperbaiki, tapi langsung disampaikan pada pembimbing dua dan tiga. Setelah dilakukan perbaikan dan konsultasi ulang, ketika ada koreksi dari pembimbing satu, disampaikannya bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan arahan pembimbing dua. Demikian seterusnya dia berkilah.  

Skripsipun, akhirnya jadi dengan koreksi yang minim. Persidanganpun dijalaninya dengan meriah. Selepas sidang, semua dosen disuguhkan dengan makanan khas daerahnya. Keluar dari ruang sidang, ketawa riang yang ditampakkan. Tidak seperti mahasiswa lain yang umumnya tampak pucat dan lemes. Nilai B didapatnya. Hingga akumulatif IPK nya adalah, 2,97. Hmmmm....kurang 0,3 untuk bisa dapat nilai 3. Biarlah....terpenting kuliah kagak nanggung.

Selepas wisuda, permasalahan berikutnya muncul. Mahasiswi lokal ada yang menyukainya. Sejatinya tidak ada hubungan resmi hingga dinyatakan dengan status kekinian, yaitu PACAR. Tapi sang mahasiswi menyatakan bahwa dia adalah pacarnya. Hingga orang tuanya berupaya keras untuk meminangnya menjadi menantu. Diajaknya dia untuk meninjau sepetak tanah kosong. Dimintanya pertimbangan darinya untuk tata letak dan arah bangunannya, perkiraan jumlah kamarnya, hingga kebutuhan biayanya. 

Sebatas teman dan tidak ada maksud untuk berjoodoh, sebuah upaya dijalaninya. Dalam sebuah pertemuan dengan sang mahasiswi, dia sengaja menenggak miras yang dicampur minuman berkarbonasi. Bertujuan agar dirinya mendapat penilaian buruk. Tapi karena tidak ada niat jahat, maka yang terjadi malah sebaliknya. Sang mahasiswi tetap berpengharapan. Diyakininya bahwa kelak ABANGDA adalah panutan yang penuh dengan keshalehan. Alamaaaaakkkkk. Cinta sudah berlabuh kuat di hatinya. 

Hingga di hari yang lain, nikmat itu senantiasa bersamanya. Ketika mengantar penumpang ke pelabuhan, promosi tiket kapal laut menuju Tanjung Priok, memikat hatinya. Harga semula Rp. 700 ribu, dapat dibelinya setengah harga. Jadilah di suatu pagi, dia berpamit pada Om Bengkel dan Om RM serta teman terdekat. Ungkapan terima kasih, dihaturkan sebanyak desahan nafas dan peluh keringat yang dijalani bersama mereka. Argumennya bahwa sebagai anak sulung dari 5 bersaudara, sudah menjadi garis untuk tetap tinggal di kampung halaman.

Seminggu kemudian tiba di Tanjung Priok, dikontaknya sang mahasiswi. Berpamitan secara baik-baik. Bahwa jodoh tidak bisa berpadu di antara keduanya. Pahit dirasa, moga tidak lantas mematahkan ikatan persaudaran yang telah terjalin. 

Kerasnya perjalanan Pemuda yang sekarang bertugas dalam sebuah program pemberdayaan, terurai sejak menempuh pendidikan di tingkat SD.  Sambil mengumpulkan barang bekas (rongsokan), ijazah SD dan SMP direngkuhnya. Teman sekolah bertambah, kegiatan ‘pemulung’ ditinggalkan saat dirinya masuk SMK. Ada rasa malu. Dia pun beralih menjadi kernet mobil colt diesel yang mengangkut berbagai sayuran ke berbagai kota/kabupaten lain. Dalam satu minggu, hanya 2-3 hari masuk sekolah. Beberapa kali Guru BP memanggilnya. Saking saringnya, di ruangan BP hanya disuruh duduk berdiam diri. Tidak diceramahi lagi karena permasalahan selalu berkaitan dengan keharusan mencari uang dengan menjadi kernet agar bisa membiayai sekolahnya. Bahkan kuliahpun, dibiayai sendiri. Hingga dirinya bisa menjadi SARJANA.

Hidup yang keras dan penuh tantangan bukanlah sebuah musibah atau nasib buruk. Pembentukan karakter terjadi secara alami seiring berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya hingga menjadi seorang DEWASA. Karakter yang siap dan teruji dalam menjalani kehidupan pribadinya dan dunia kerjanya. Karakter yang dapat menerima arti sebuah pertemanan dan kebersamaan untuk saling berbagi dan mengisi, bukan semata meraih sukses, melainkan SUKSES BERSAMA.

(1 Juni 2016, hujan deras meningkahi jalanan kota).