Selasa, 07 Juni 2016

Bisa Jadi Sarjana



Ikatan persaudaraan bisa terbangun dengan berbagai corak dan warna. Persaudaraan yang tumbuh berdasarkan agaman, suku, daerah, tempat pendidikan, pekerjaan, dll. Persaudaraan yang semakin berkembang dengan berbagai output yang positif, tidak dapat dipandang sebelah mata dan sama sekali tidak ada. Sementara di sisi lain, persaudaraan yang memunculkan output negatif pun, tak dipungkiri bukannya tidak ada. Adalah sebuah harapan, persaudaraan yang ada merupakan pilihan dengan kesadaran untuk saling mengisi dan berbagi membangun negeri.

Merantau begitu tamat SMK (setara SMA), diambil sebagai keputusan yang sangat berani. Tidak tanggung-tanggung, merantau jauh ke Indonesia bagian tengah. Menempuh perjalanan panjang selama 1 minggu dari barat menuju sebuah harapan di tanah orang, di bagian lain NKRI. Sebuah tekad disematkan mendalam di hati sanubari, bisa dapat pekerjaan di pulau berbentuk huruf K.

Kala senja di penghujung reformasi, tahun 1998, sebuah kapal berlabuh di kota di bagian tengah Indonesia. Seorang penumpang remaja tanggung berperawakan kecil, penuh semangat menuruni tangga menginjak dermaga. Bertanya kepada beberapa orang, diketahui bahwa menuju pusat kota dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam, memerlukan ongkos sejumlah Rp. 15.000, sementara dompet lusuhnya, menyisakan lembaran uang sejumlah Rp. 10.000. 

Adu tawar dilakukan dengan seorang sopir angkot yang sedang mencari penumpang. Sopir angkot bersedia menerima ongkos dengan uang yang tersisa. Tas pun langsung disimpan di dalam angkot. Sang sopir sibuk kembali mencari penumpang lainnya untuk menggunakan jasanya. Teriakannya diarahkan kepada penumpang yang sedang berduyun-duyun menuruni anak tangga dari kapal. 

Asyik mengamati berbagai tingkah dan kejadian yang ada di hadapannya, sekilat kemudian datang menghampiri seorang lelaki berperawakan tinggi. Seorang sopir yang mau menjemput majikannya. Ditanyanya tentang kapal yang sedang berlabuh. Kemudian ditanyanya daerah asal, mau apa, mau ketemu siapa, hingga akhirnya berujung dengan penggunaan bahasa yang sama, karena berasal dari daerah yang sama

Buahnya, batal naik angkot. Beralih ke mobil dengan sopir tadi dan bersama majikannya. Bahkan, remaja tersebut bermukim dan sekaligus bekerja di majikan yang kemudian dipanggilnya Om itu. Bekerja di sebuah rumah makan.

Beranjak dengan tugas di bagian belakang, sebulan kemudian maju ke bagian depan sebagai pramusaji yang membawakan makanan dan minuman untuk pada pengunjung. Dari sekian pengunjung yang umumnya juga orang yang memiliki selera yang sama, ada pengusaha bengkel yang mengajak untuk bekerja di bengkelnya. Tawaran itu diterimanya karena sesuai dengan pendidikan yang pernah dienyamnya, yaitu SMK jurusan otomotif. Setelah mendapat izin dari Om Rumah Makan, tempat berlabuhnya kemudian pindah ke Om Bengkel.

Bekerja penuh hati menjadi montir, memunculkan sebuah tawaran dari Om Bengkel pada dirinya untuk kuliah di sebuah universitas negeri di kota tersebut. Tawaran itu dijalaninya dengan mengikuti seleksi dan akhirnya diterima di Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan. Maka kesehariannya dijalani dengan lebih beragam. Pagi kuliah, siang dan sore membengkel. Kadang sebaliknya, pagi di bengkel, siang dan sore di kampus. Perjalanan ke kampus, diantar oleh angkot milik Om Bengkel. Sekali dua kali, peran berganti. Ada sopir angkot yang berhenti. Kerja di bengkel dihentikan, berubah menjadi sopir angkot. Jika kuliah, jadilah angkot itu pun mangkal di kampus.

Suatu waktu, berjumpalah dengan seorang pengusaha yang sedang melakukan pengembangan di Kota kecil tersebut. Berawal dari antar jemput dari dan ke hotel, diselingi diskusi kecil, pengusaha tadi rupanya tertarik dengan berbagai solusi yang dianjurkan oleh pemuda itu untuk mengatasi persoalan yang dihadapi perusahaannya. Dimintanya untuk menjadi kepala perwakilan di Kota itu. Kemudian direkrutlah karyawannya. Di luar dugaan, perusahaan itu maju dan berkembang cukup pesat. Usaha lain pun diraihnya. Masuk ke usaha pengolahan hasil bumi. Mendadak gaya hidupnya berubah drastis. Menjadi pemuda yang berjaya di tanah rantau. Rumah, mobil dan motor, bisa dibelinya. Lima kawan kuliahnya, ditampung di rumahnya. Kebutuhannya, dipenuhinya. Mulai dari biaya makan, kuliah, hingga kehidupan malam di setiap pekan.  

Keadaan yang sedemikian, tidak lantas melupakan diri dari tekadnya untuk menuntaskan kuliahnya. Jelang ujian akhir di penghujung tahun 2002, usahanya dipercayakan pada karyawannya untuk dikendalikan selama kurang lebih 2 minggu. Sementara dirinya fokus pada kuliah. Apa disangka, semua di luar dugaan. Semua kembali ke titik NOL. Bahkan jungkir balik menjadi minus. Karyawan yang diberinya kepercayaan, melakukan berbagai penyimpangan. Habis semuanya. Menjadi gembel di jalanan kota, sempat dijalaninya. Hingga akhirnya, dia berlabuh kembali ke Om Bengkel.

Menjadi sopir angkot lagi dan penuh semangat menuntaskan kuliah, tersisa ujian praktek, penelitian, penyusunan skripsi, sidang dan wisuda. Ujian praktek dan penelitian menjadi kendala berat yang dihadapinya. Dua hal dengan biaya yang cukup besar. Tapi nikmat selalu datang menghampirinya. Ujian praktek dan penelitian secara tidak langsung dibiayai oleh dosennya yang sedang menempuh pendidikan S-3. Dosen perempuan dari Bali itu, seolah menjadi perahu yang membawanya berlayar ke pulau harapan. Diceritakannya bahwa dia seorang perantau, hidup di kontrakan, jadi sopir angkot, punya anak dua, tapi bertekad jadi SARJANA. Bahkan permintaan agar dosen pembimbingnya adalah Dosen A, B dan C, dikabulkan oleh Dosen tersebut. 

Kuliah dijalaninya 24 SKS/semester dengan 6 – 7 mata kuliah. Menurut pandangan teman-temannya, hal tersebut terlalu banyak. Apalagi dirinya jarang masuk karena narik angkot atau sibuk di bengkel. Tapi prinsinya dibenarkan. Jika dia ambil 5 mata kuliah, sementara yang lulus 3 kuliah, maka rugi yang dialaminya. Jadi lebih baik diambil 7 mata kuliah, kemudian hasilnya 5 mata kuliah dinyatakan lulus, meskipun akhirnya harus mengulang 2 mata kuliah. 

Teman-teman di kampus cukup banyak membantunya. Bahkan mereka pun sempat mendeportasi seorang dosen KILLER. Dosen yang sering mengumpat dan marah-marah. Keputusan pun diambil. Tidak boleh berkepanjangan. Harus ada tindakan. Semua mahasiswa 1 kelas, sepakat membawa badik. Ketika dosen itu masuk kelas, kemudian menanyakan tugas yang harus dilaksanakan oleh mereka, dan ditanggapi bahwa tugasnya belum selesai, seketika amarah dan umpatan itu muncul. Maka seketika itu pula, Pemuda tersebut maju dengan mengacungkan badik. Meletakkan badiknya di meja. Sementara mahasiswa lainnya, mengacungkan badiknya masing-masing. Sang dosen langsung pucat. Terdiam. Sebentar kemudian, ditinggalkannya kelas itu. Beberapa waktu berganti, sang dosen dimutasi ke tempat lain. Sementara dirinya mendapat skorsing 2 minggu.

Memasuki akhir kuliah, penyusunan skripsi ditempuhnya dengan cepat. Skripsinya langsung disusun secara lengkap dari bab awal hingga bab akhir. Konsultasi dengan pembimbing pun, draft skripsinya dibawa lengkap tidak diajukan per bab. Taktik jitu dijalankan.  Koreksi dari pembimbing satu, tidak lantas diperbaiki, tapi langsung disampaikan pada pembimbing dua dan tiga. Setelah dilakukan perbaikan dan konsultasi ulang, ketika ada koreksi dari pembimbing satu, disampaikannya bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan arahan pembimbing dua. Demikian seterusnya dia berkilah.  

Skripsipun, akhirnya jadi dengan koreksi yang minim. Persidanganpun dijalaninya dengan meriah. Selepas sidang, semua dosen disuguhkan dengan makanan khas daerahnya. Keluar dari ruang sidang, ketawa riang yang ditampakkan. Tidak seperti mahasiswa lain yang umumnya tampak pucat dan lemes. Nilai B didapatnya. Hingga akumulatif IPK nya adalah, 2,97. Hmmmm....kurang 0,3 untuk bisa dapat nilai 3. Biarlah....terpenting kuliah kagak nanggung.

Selepas wisuda, permasalahan berikutnya muncul. Mahasiswi lokal ada yang menyukainya. Sejatinya tidak ada hubungan resmi hingga dinyatakan dengan status kekinian, yaitu PACAR. Tapi sang mahasiswi menyatakan bahwa dia adalah pacarnya. Hingga orang tuanya berupaya keras untuk meminangnya menjadi menantu. Diajaknya dia untuk meninjau sepetak tanah kosong. Dimintanya pertimbangan darinya untuk tata letak dan arah bangunannya, perkiraan jumlah kamarnya, hingga kebutuhan biayanya. 

Sebatas teman dan tidak ada maksud untuk berjoodoh, sebuah upaya dijalaninya. Dalam sebuah pertemuan dengan sang mahasiswi, dia sengaja menenggak miras yang dicampur minuman berkarbonasi. Bertujuan agar dirinya mendapat penilaian buruk. Tapi karena tidak ada niat jahat, maka yang terjadi malah sebaliknya. Sang mahasiswi tetap berpengharapan. Diyakininya bahwa kelak ABANGDA adalah panutan yang penuh dengan keshalehan. Alamaaaaakkkkk. Cinta sudah berlabuh kuat di hatinya. 

Hingga di hari yang lain, nikmat itu senantiasa bersamanya. Ketika mengantar penumpang ke pelabuhan, promosi tiket kapal laut menuju Tanjung Priok, memikat hatinya. Harga semula Rp. 700 ribu, dapat dibelinya setengah harga. Jadilah di suatu pagi, dia berpamit pada Om Bengkel dan Om RM serta teman terdekat. Ungkapan terima kasih, dihaturkan sebanyak desahan nafas dan peluh keringat yang dijalani bersama mereka. Argumennya bahwa sebagai anak sulung dari 5 bersaudara, sudah menjadi garis untuk tetap tinggal di kampung halaman.

Seminggu kemudian tiba di Tanjung Priok, dikontaknya sang mahasiswi. Berpamitan secara baik-baik. Bahwa jodoh tidak bisa berpadu di antara keduanya. Pahit dirasa, moga tidak lantas mematahkan ikatan persaudaran yang telah terjalin. 

Kerasnya perjalanan Pemuda yang sekarang bertugas dalam sebuah program pemberdayaan, terurai sejak menempuh pendidikan di tingkat SD.  Sambil mengumpulkan barang bekas (rongsokan), ijazah SD dan SMP direngkuhnya. Teman sekolah bertambah, kegiatan ‘pemulung’ ditinggalkan saat dirinya masuk SMK. Ada rasa malu. Dia pun beralih menjadi kernet mobil colt diesel yang mengangkut berbagai sayuran ke berbagai kota/kabupaten lain. Dalam satu minggu, hanya 2-3 hari masuk sekolah. Beberapa kali Guru BP memanggilnya. Saking saringnya, di ruangan BP hanya disuruh duduk berdiam diri. Tidak diceramahi lagi karena permasalahan selalu berkaitan dengan keharusan mencari uang dengan menjadi kernet agar bisa membiayai sekolahnya. Bahkan kuliahpun, dibiayai sendiri. Hingga dirinya bisa menjadi SARJANA.

Hidup yang keras dan penuh tantangan bukanlah sebuah musibah atau nasib buruk. Pembentukan karakter terjadi secara alami seiring berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya hingga menjadi seorang DEWASA. Karakter yang siap dan teruji dalam menjalani kehidupan pribadinya dan dunia kerjanya. Karakter yang dapat menerima arti sebuah pertemanan dan kebersamaan untuk saling berbagi dan mengisi, bukan semata meraih sukses, melainkan SUKSES BERSAMA.

(1 Juni 2016, hujan deras meningkahi jalanan kota). 

Jumat, 27 Mei 2016

Penuh Syukur

Masjid Al-Abror, Pejompongan, Jakarta Pusat, 1 April 2016. Khotib menyampaikan : tiga hal yang dapat menghancuran, yaitu : nafsu, bakhil dan sombong. Nafsu menyebabkan diri jadi serakah. Bakhil menyebabkan diri dijauhi Alloh, manusia dan surga, kemudian dekat pada neraka. Sementara dermawan didekati Alloh, manusia dan surga, kemudian dijauhi neraka. Alloh menyukai orang yang bodoh tapi dermawan dan membenci orang pintar tapi bakhil.

Berkah tersirat dan tersurat dalam ;
- Jiwa yang tenang dan dekat pada Alloh.
- Bermanfaat untuk orang banyak.
- Mudah dalam sedekah dan zakat.
- Keluarga harmonis dan anak sholeh.
- Merasa cukup.
- Penuh syukur.



Gadobangkong

Masjid Baitur Rahman RT 3 RW 10 desa Gadobangkong Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat. Peringatan Isra' Mi'raj diisi dengan narasumber KH. Ahmad Kosasih pimpinan Ponpes Al-Huda Desa Bojong Koneng. Ponpesnya jika tidak ada perubahan, akan terkena gusur oleh jalur kereta api cepat Jakarta - Bandung. Bisa dibayangkan, sebuah pusat pembelajaran mesti mengalah untuk sebuah kemajuan teknologi, yang hingga kini masih bergelimang pertanyaan : ada siapa, untuk apa dan untuk siapa di belakang KA cepat Jakarta - Bandung?

KH Ahmad Kosasih menyampaikan : bahwa dalam setiap acara pengajian mesti disikapi dengan takdiman dan takliman. Harus dicandak (diambil) dan dicutak (diresapi) serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin senang dan tenang dalam sakaratul maut dan dijaga dari tipu daya syetan, maka mulyakan Bulan Rajab dengan cara : memperbanyak shaum, lisan yang selalu berdzikir, betah di masjid dengan berbagai kegiatan kajian, dan berbuat baik kepada kedua orang tua. barang siapa yang rajin hadir di majelis taklim dengan mendengar dan menyimak, maka dihidupkan hatinya seperti tanah kering yang disiram air. Nyacengkar, nyagaring, pinuh ku koral. Tutung garing kari durukeun. Akhirnya tanah itu menumbuhkan tanaman/pohon yang akarnya dalam menghujam, batangnya tinggi menjulang dengan dahan dan ranting yang menyebar dan daun yang rimbun. Hadir di dalam Majelis Taklim jangan sampai PARIHA - PARIHU - PAROHO. Liduh taneh, montok tangkal. Eling jiwa raga. Saha urang? Ti mana urang? Rek ka mana urang? Naon bekel nu dibawa ku urang?

Saha urang? Jelema. Budak leutik jelema lain? Budak leutik lain jelema, tapi bakal/calon jelema. Sabab can aya kawajiban pikeun ngalaksanakeun amal ibadah. Aki nini nu geus pikun jelema lain? Aki nini nu geus pikun lain jelema, tapi urut jelema, Sabab geus loba poho, geus balik deui jiga budak. Tah, urang saha? Jelema kan? Lamun ngaku jelema matakna kudu ati-ati. Sing bisa ngabedakeun mana nu bener jeung mana nu salah. Sing bisa ngalakonan jeung ngaleukeunan parentah nu geus digariskeun. Sing bisa ngajauhan jeung ninggalkeun naon anu geus dilarang. Hayang disebut budak leutik? Hayang disebut pikun?


Senin, 21 Maret 2016

Bisul



Sabtu, 26 desember 2015, di saat mengisi kegiatan pelatihan P2KKP di kantor kelurahan Cimincrang kecamatan Gede Bage, sang BISUL masih sebuah butiran kecil. Keberadaanya masih sebatas rasa sakit yang berpusat di betis kaki kiri. Langkah kaki mulai dari jalan Soekarno Hatta di gerbang Bumi Panyileukan hingga perbatasan kelurahan Cimincrang, masih terayun mantap. Hingga pelatihan usai di jarum jam angka 2, kemudian tiba di rumah menjelang adzan Ashar, kaki kiri masih seperti biasa. 

Minggu, 27 desember 2015, mengantar keluarga berlibur ke rumah orang tua di Desa Cikuya Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Perjalanan ditempuh dengan menyenangkan. Rencana mau naik kereta api, dibatalkan karena barang bawaan dan pergantian kendaraan umum, akan cukup merepotkan. Tiba di depan Gang Sukarame II, nyebrang jalan Ahmad Yani, kemudian naik angkot Dipati Ukur – Panghegar. Alhamdulillah sebuah bis Kobutri jurusan Cicaheum – Majalaya, sedang mangkal di depan toko alat olah raga. Ternyata sang supir sedang tidak berada di tempat. Sang kondukter berbaik hati, sebuah angkot jurusan Cicaheum – Cileunyi dimintanya untuk mengantarkan kami hingga ke tujuan. Jadilah angkot berpenumpang 6 orang itu, satu penumpang seorang kakek yang turun di seputaran Ranca Ekek, bergerak meluncur menuju Cileunyi. sesekali sang angkot menaikkan dan menurunkan penumpang. Namun lepas dari Ranca Ekek, pintu angkot ditutup dan hanya kami berlima yang menikmati perjalanan itu. Angkot itu berasa milik sendiri. Alfiyah, Alifah dan Tsaqib, bisa duduk sambil tiduran. Menerabas Parakan Muncang, kemudian berbelok di Warung Peuteuy, melintasi rel stasiun Cicalengka, kemudian tibalah kami di rumah dengan dinding bercat ungu.. Ongkos yang diberikan sesuai tarif umum, kena Rp. 12 ribu rupiah/orang, yaitu 7 ribu untuk jarak Cicaheum -  Cileunyi dan 5 ribu untuk Cileunyi – Warung Peuteuy nyambung ke Cikuya. Total Rp. 60 ribu untuk berlima. 

Lepas sholat ashar, saya pamit. Diantar Husni, adik ipar, kami menuju stasiun KA Cicalengka. Jadwal  yang bisa diakses adalah keberangkatan pada pukul 17.05 WIB. Berarti harus menunggu selama 1 jam setengah. Berdiri di loby stasiun, berkali-kali melihat beberapa jadwal keberangkatan KA, baik yang jarak dekat maupun jarak jauh. KA ekonomi, bisnis dan eksekutif. Ya, ada keinginan untuk naik KA bersama keluarga, liburan ke Surabaya atau Jogja. Sekalian napak tilas ke Purwokerto. Kota kecil yang menorehkan sebuah pengabdian dalam pelaksanaan P2KP pada tahun 2002 hingga 2004. Di kelurahan Rejasari kecamatan Purwokerto Barat, kami pernah tinggal kurang lebih 4 bulan dari Desember 2003 hingga April 2004. Waktu itu, baru punya anak 1, yaitu Alfiyah Nur Azizah. Di Rejasari, Alfiyah berhasil belajar berjalan. Di halaman belakang, suatu ketika hujan turun, saya ajak Alfiyah hujan-hujanan. Di halaman belakang, Alfiyah mengenal siput, cacing, kaki seribu, dan fauna lainnya.

Eiiiit, kepanjangan.....pukul 16.30 WIB, loket dibuka. Antrian mulai berkurang. Selanjutnya penumpang beringsut masuk ke area ruang tunggu, area yang dibatasi dengan pagar besi. Sebuah jurus ampuh untuk menertibkan penumpang yang akan menaiki KA agar tidak berbenturan dengan penumpang yang turun dari KA. Pintu pagar besi baru dibuka, apabila semua penumpang telah meninggalkan stasiun. Maka berpaculah calon penumpang memburu 7 gerbong yang akan membawanya ke Bandung atau Padalarang. 

Pukul 17.50 WIB, saya turun di staisun Kiaracondong. Saku kecil di bagian depan saku kanan, menyimpan 2 buah uang logam bernilai 500 rupiah dan 1 lembar kertas bergambar Fattimura. Sementara di saku belakang, tersimpan 1 lembar uang pecahan 50 ribu. Minimal perlu 3 ribu untuk naik angkot dari fly over Kiaracondong hingga perempatan Antapani. Jika menggunakan uang pecahan 50 ribu, supir angkot mungkin tidak ada kembalian. Mau nuker uang yang 50 ribu, kayaknya ribet. Kemungkinan tertolak dengan berbagai alasan. Tiba di bawah fly over, diselidik beberapa toko, kayaknya ga ada yang pas buat transaksi tukar uang meskipun didahului pembelian. Bergerak ke utara menuju SPBU, terlihat di tangan kiri petugasnya, tergenggam lembaran uang dengan beberapa nominal. Tapi sungkan untuk mendekat dan menghampirinya. 

Akhirnya, kedua kaki ini melangkah membawa badan, berjalan menelusuri trotoar. Lima belas menit sebelum adzan Isya, alhamdulillah tiba di rumah orang tua yang berdekatan dengan kampus BSI Antapani. Makan, ambil kunci, berikutnya menuju rumah yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah orang tua. Sekujur badan penuh keringat. BISUL di hari minggu itu, sepertinya sedang gerilya. Gerakannya makin lincah, dipicu oleh pori-pori kulit yang sedang terbuka karena berkeringat. Sepertinya kuman dan bakteri pun ikut berpesta beserta kotor yang menyertainya.

Senin, 28 desember 2015, BISUL di betis kiri, menampakkan polahnya. Sesekali jalannya kaki kiri agak lumayan sakit. Sang BISUL sudah lebih besar dari penampakannya di hari sabtu itu. Kegiatan pelatihan di aula kantor Camat Ujung Berung, alhamdulillah dapat dituntaskan. Selepas pamit pada Tim Faskel dan Askot, tujuan berikutnya adalah Masjid Raya Ujung Berung untuk menunaikan sholat Dhuhur. Baru teringat, sholat Dhuhur di Masjid Raya Ujung Berung itu, tasahud akhirnya tidak tertunaikan dengan sempurna. Duduknya tegak, menghindari betis kiri tertindih kaki dan badan secara keseluruhan. 

Selasa, 29 desember 2015, kegiatan pelatihan di Cigondewah Kaler, dijalani dengan teramat berat. Kaki kiri semakin berbobot. Langkah sedikit tertatih selama perjalanan dari rumah menuju halte Damri di depan BCA Ahmad Yani. Bis yang dinaiki, kursinya terisi semua. Berdiri di bagian belakang, kaki kanan mencoba menyeimbangkan kaki kiri yang tidak terlalu menjejak lantai bis. Kaki kanan mencoba berdiri sendiri menyangga kaki kiri. Turun di bunderan Cibeureum, kemudian melangkah menuju Gang Cibuntu untuk berjumpa dengan Duny, faskel MK Tim 17 Kota Bandung. Bertegur sapa tentang kesehatan, berikutnya motor supra fit bergerak membawa kami menuju SDN III Cigondewah Kaler. 

Jalan berliku membuka gambaran khas daerah Cigondewah yang dikenal sebagai pusat perdagangan berbagai kain. Setelah melintasi jembatan di atas Tol Pasir Koja, di kanan dan kiri jalan, berjajar toko kain. Mulai dari toko kain yang kecil dan sederhana, hingga toko kain yang besar dengan area parkir yang memadai. Selepas pasar Cigondewah, kami masuk dalam sebuah gang. Lurus, belok kiri, mentok, ke kanan sedikit, akhirnya tiba di sekolah SDN III Cgondewah Kaler III. Pelatihan kemudian terlaksana hingga pukul 12 WIB. Di sebuah mushola kecil, sholat dhuhur tertunaikan. Kembali terulang, duduk tasahud tidak terlaksana dengan maksimal karena adanya BISUL di betis kiri. Menunggu di luar kelas hingga pelatihan selesai, berjalan ke toilet sekolah, berjalan dari kursi di bagian belakang menuju pintu keluar bis Damri, dan berjalan dari depan gang menuju rumah, semuanya dilakoni dengan langkah yang lambat dan sedikit tertatih-tatih. Sang BISUL makin menguatkan jaringannnya. Menelisik. Menjalar. Mewabah. Area di lingkaran BISUL menjadi merah memerah.

Rabu, 30 Desember 2015, selepas subuh, sarapan nasi goreng di rumah orang tua. Pada pukul 07.05 WIB, bersama Travel Baraya berangkat menuju Jakarta. Suatu anugrah bisa turun di depan jalan Bendungan Hilir. Biasanya armada Baraya Full Sarinah, melintasi daerah Kuningan, tidak masuk ke jalan Sudirman. Keluar dari mobil, langsung disambung dengan ojeg menuju jalan Danau Trusnan, Kantor KME. Tiba sekitar jam 10, masih dapat ditunaikan sholat Dhuha. Berikutnya mengikuti kegiatan rapat dan diskusi dengan pokok bahasan hasil kajian BDC, Survai Impact PPMK dan KMS (Keuangan Mikro Syariah). Dilanjutkan dengan bahasan secara singkat tentang rencana kajian Federasi UPK. Pukul 4 sore, pamit kepada TL dan beberapa TA. Tak lain karena BISUL terus berulah. TL menyarankan untuk menggunakan salep hitam. 

Pulang kembali ke Bandung bersama Travel Baraya, dijalani dengan melipat celana jeans kaki kiri hingga di atas lutut. Rasanya jadi lebih enak. Meski cenud cenud, sakit luar biasa. Wow, sang BISUL makin besar. Tampak lingkaran merah di sekelilingnya. Lingkaran merah yang mengeras. Sementara di bawah mata kaki, kaki membengkak. Rupanya, perjalanan Jakarta – Bandung, ditambah ulah sang BISUL, menyebabkan kaki membesar. Hingga Rabu itu, BISUL baru diberi tindakan dengan memberikan obat oles herbal.  

Kamis, 31 Desember 2015, seharian di rumah. Obat BISUL berupa salep hitam, menjadi teman, menggantikan obat salep sebelumnya. Salep hitam dioleskan di sekeliling BISUL. Siangnya, Ibuku datang membawa nasi dengan lauk sambal goreng kentang dan ikan. Pada malamnya, BISUL diberi tindakan. Dipijit di kedua sisinya dengan jempol dan telunjuk. Hancur. Kemudian dilibas air hangat. Sedikit lega. Tapi beberapa saat kemudian, badan jadi terasa panas dingin. Rupanya BISUL itu memberikan perlawanan hebat. Di tengah letupan petasan dan kembang api menyambut pergantian tahun baru, tidur makin tak nyenyak. Di luar bising, sementara di kaki ada shooting.

Jumat, 1 Januari 2016, beberapa saat sebelum mandi mengguyur badan, sang BISUL dibersihkan dari salep hitam dengan luncuran air hangat. Empat jari kembali memijit. Hasilnya nihil. Sang BISUL tetap kuat. Jam 2 siang, ibu datang membawa nasi dengan lauk sayur urab. Beberapa saat selepas Ashar, keluarga tiba di rumah. Alfiyah, Alifah dan Tsaqib, begitu masuk rumah, kompak ingin melihat kaki ayahnya yang sejatinya ingin melihat BISUL. Berikutnya masuk sang istri, Mamah dan keluarga Heru. Meluncurlah cerita bahwa tukang sayur yang menjadi langganan di komplek rumahnya, di Depok, sedang punya problem yang sama, BISUL di lengan kanan. 

Sabtu, 2 Januari 2016, sang BISUL di siang diberi perlakuan untuk dipecahkan oleh ibunya anak-anak. Tapi malah sakit luar biasa dampaknya. Problem juga dialami Tsaqib, sebuah gunting oleh-oleh dari Singapura, yang tergeletak di atas bantal, tanpa babibu, menusuk telapak kaki kanannya. Tangisan diiringi jeritan, langsung membahana. Ada saja musibah yang dialami si bungsu, sebelumnya, jempol kanannya pernah tertusuk jarum, sementara kaki kirinya pernah terlindas sepeda motor. 

Ahad – Selasa, 3 – 5 Januari 2016, daun iyen-iyen mengitari BISUL. Pengaruhnya cukup baik. Area merah di sekeliling BISUL semakin berkurang. Sementara pada Rabu dan Kamis, 6 – 7 Januari 2016, parutan kentang menggantikan tugas daun Iyen-iyen yang memang sudah habis. Jika daun iyen-iyen ada rasa panas yang mengirinya, sementara parutan kentang, ada rasa dingin dan lebih adem. Area merah terus mengecil. Tapi sang BISUL masih terlalu kuat untuk dipecahkan. Tampilan BISUL tampak hitam dan keras. Mata BISUL ntah di bagian mana. 

Jumat, 8 Januari 2016, selain BISUL, gatal-gatal mulai datang menyerang. Awalnya di area lipatan kaki, jari dan paha. Kemudian merambah ke area pinggang dan perut. Mandi dengan air hangat, kemudian ditaburi bedak NIK NAK, rasanya adem. BISUL dibiarkan saja. Bagian tengahnya yang hitam dan keras. Meski demikian, rasa panas dan dingin masih sering muncul. Mungkin terjadi persekongkolan antara BISUL dan gatal-gatal yang terus menggedor pertahanan tubuh.

Sabtu, 9 Januari 2016, BISUL dan gatal-gatal memberikan warna lain dalam rangka silaturahim ke Depok untuk menghadiri acara Tasyakur Khitanan Idlan Rafansya Mataburu, anak kedua dari Iyam (Saudara Kandung) dan Ilham yang akan dilaksanakan pada 10 Januari 2016.  Ulah sang BISUL sesekali mengeluarkan cairan kuning bercampur dengan darah. Tissue yang selalu tersedia, sigap dan siap untuk menyekanya. Tidak ada tindakan lain pada sang BISUL. Sementara jamur/bakteri/kuman bergerilya terus menebar rasa gatal. Tablet kecil berwarna putih, Recitizine, menggantikan obat CTM yang belum dikonsumsi untuk mengurangi rasa sakit gatal-gatal tersebut. Rupanya Bi Dede, adik dari Kakeknya Alfiyah, juga mengalami sakit gatal-gatal. Apakah sedang mewabah penyakit gatal-gatal? Apakah perubahan musim dari kemarau ke hujan turut memicu munculnya alergi?

Ahad, 10 Januari 2016, acara tasyakur khitan digelar di gedung serba guna Masjid Al-Hidayah Beji. Acara diikuti dengan menahan rasa sakit di kaki kiri. Ketika melangkah, sering terjadi gesekan antara BISUL dengan celana. Gesekan itu menimbulkan rasa sakit lumayan. Untuk mengurangi terjadinya gesekan, solusi ditempuh dengan cara lebih banyak melakukan aktivitas duduk daripada berdiri dan berjalan. Duduk di area yang berdekatan dengan panggung yang dikuasi Tim Nasyid Senandung Madani dari Cicelangka Kabupaten Bandung. Di beberapa jeda, celana di kaki kiri dilipat hingga di atas lutut, menghindari celana mengganggu kedaulatan BISUL. 

Pukul 2 siang lebih, kami pamit untuk pulang. Sementara Kakek dan Nenek Alfiyah lanjut hingga acara selesai. Sambil mengenakan celana HAWAI/pendek, perjalanan pulang diselingi dengan mempermainkan luka kering BISUL yang sepertinya mau terlepas. Tersisa sedikit bagian yang masih menempel kuat. Tapi bagian sedikit itulah yang bisa menimbulkan rasa sakit terbesar. Sebelumnya ada keinginan agar luka yang mengering tersebut bisa terlepas di rumah untuk mendapat tindakan lebih baik. 

Kami berhenti sejenak di rest area KM 39 untuk menunaikan Sholat Ashar. Diambillah celana panjang hitam yang sebelumnya dipakai waktu acara di Depok. Sambil agak berdiri, celana itu mulai dipakai. Pertama di kaki kanan. Kemudian dipasangkan ke kaki kiri. Belum tuntas seluruh bagian celana menutupi kaki kiri, apa yang dibayangkan menjadi kenyataan. Celana menggesek bagian luka di BISUL. Teriakan yang terkekang keluar secara spontan. Celana itu diturunkan kembali. Ajaib, bagian luka itu telah lepas. Tampaklah sebuah luka dengan diameter 2 cm dan kedalaman 2 mm. Di beberapa bagian tampak lubang-lubang dengan ukuran kecil. Mungkin lubang kecil itu bagian dari intisari/mata BISUL. Darahpun menggeliat meski tidak deras.
Celana panjang kembali dikenakan. Lancar jaya menutupi kedua kaki. kemudian melangkah mantap menuju masjid untuk menunaikan sholat Ashar, meski sesekali merintih menahan rasa sakit.

Kamis, 11 Februari 2016

Dari Masjid Membangun Ummat









Sabtu, 30 Januari 2016, Aula Rabbani Hijab. Gelaran Seminar The Power Of Sholat Subuh menghadirkan Ustad M. Jazir, ketua DKM jogokariyan Yogyakarta dan Ustad Hanan At-Taqi dari DKM Salman ITB Bandung. Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian sambutan dari Kang Demas selaku penanggung jawab program GASIBU (Gerakan Nasional Sholat Subuh Berjamaah), Kang Diki Budiana, ketua komunitas Pejuang Subuh Kota Bandung dan H. Nandang Komara, Direktur Operasional Rabbani.

Ustad Hanan At-Taqi menyampaikan bahwa adzan Sholat Subuh ada kalimat tambahan yang artinya Sholat lebih baik daripada tidur. Kalimat tersebut adalah panggilan untuk membangunkan orang dari tidur dan memberitahukan bahwa ada hal yang lebih baik daripada tidur, yaitu melaksanakan sholat. Patut disyukuri manakala kita bisa memenuhi panggilan/hidayah tersebut. Sebagaimana sebuah cerita : seorang pemuda mabuk berat. Sementara malam semakin larut. Dalam perjalanan pulang, dia tertidur di teras masjid. Dalam tidurnya, dia bermimpi ada seseorang yang memberinya sebuah A-Qur’an. Beberapa waktu kemudian, dia dipenjara karena suatu perkara. Di sel tahanan, ada seorang napi yang membaca Al-Qur’an. Dia penasaran. Dia ingin melihatnya. Kemudian dia ingat akan mimpinya. Akhirnya dia mau mempelajarinya dan hijrah menjadi seorang muslim. Setiap muslim pada dasarnya adalah seorang Da’i. Maka jadilah Da’i. Berkata, berpikir, bersikap dan bertindak seperti seorang Da’i, bertugas menyampaikan dakwah dan menerapkan dakwahnya. 

Pemahaman dari hadits “sampaikan meskipun satu ayat’, bukan semata dan hanya ‘memberitahukan’, melainkan sampaikan hal tersebut dengan cara yang baik, nyaman, strategi yang tepat, media yang pas, dan berdampak. Bahkan di sisi lain, sampaikan meskipun dapat membuat kita celaka/menderita. Artinya berjuang keras untuk menyampaikan dakwah tersebut. Kita arus dapat meyakinkan orang lain bahwa sholat lebih baik daripada tidur. Ibarat seorang marketing, kita bisa menjelaskan ‘spesifikasinya’, kemudahan cara mendapatkannya, perbedaan dalam penampilannya, dan kenyamanan dari dampak yang akan diperolehnya. Pada cerita lain : 2 orang pemuda anak band, masbuk Sholat Isya. Di masjid hanya mereka berdua. Tidak ada yang mau jadi imam. Mereka saling dorong untuk menyuruh di antara mereka menjadi imam. Ditempuhlah sebuah cara untuk menentukan siapa yang akan menjadi imam di antara mereka. SUTEN, pihak yang kalah jadi imam, sementara pihak yang menang jadi makmum. Cerita ini menyiratkan bahwa untuk saat tersebut, metode dan media itu yang membuat mereka nyaman untuk menunaikan kewajibannya. Tentu ada cara lain dalam berdakwah. Surat Nuh banyak mengungkap metode dakwah. GASIBU sebagai bagian dari dakwah, maka yakini bahwa dakwah kita pasti menang. Menangnya dakwah adalah soal waktu. Pilihannya, apakah kita hanya ingin mendapat peran sebagai penonton atau berkontribusi langsung dalam kemenangan dakwah tersebut?

Ustad M. Jazir menyampaikan paparan dengan tema “Dari Masjid Membangun Ummat”. Paparannya diawali dengan kalimat bahwa menjadi pengurus DKM akan mendudukkan seseorang menjadi manusia yang mulya. Dalam suatu hadits dinyatakan bahwa yang akan menjadi keluarga Alloh adalah para pemakmur masjid dan penghafal Al-Qur’an. Pemakmur masjid diberi jaminan dalam bimbingan Alloh dan menjadi pemakmur masjid adalah sebuah pengabdian yang mulya. Sholat Subuh di Masjid Jogokariyan, masjid yang terletak di Kampung Jogokariyan No. 36 kecamatan Mantrijeron Jogjakarya, jamaah sholat subuhnya mendekati jumlah jamaah Sholat Jumat. 

Bertugas menjadi DKM sejak tahun 1999, langkah kecil diawali dengan memetakan penduduk di kampung Jogokariyan yang terdiri dari 907 KK dengan 2.200 jiwa. Rinciannya, 816 jiwa wajib sholat dan 115 non muslim. Untuk menggerakkan sholat berjamaan di masjid, tahapan kegiatan yang dilakukan adalah : 1. Pengurus DKM berkunjung ke rumah setiap warga, 2. Memberitahukan program belajar sholat dengan fasilitas guru khusus untuk mengajarkan sholat, kain sarung/mukena, peci dan sajadah (ada biaya untuk guru), 3. Mengundang warga yang sudah diberikan pelajaran sholat untuk sholat berjamaah di masjid, 4. Undangan sholat berjamaah dibuat dengan undangan khusus dan istimewa layaknya undangan sebuah acara pernikahan/khitanan, 5. Dalam undangan dicantumkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits yang berkenaan dengan sholat 5 waktu dan keunggulan sholat berjamaah. 6. Diberikan fasilitas lebih dalam pelaksanaan sholat subuh, yaitu minum kopi/teh disertai camilan khas di pagi hari, bahkan disediakan beberapa unit hadiah dalam kegiatan sholat subuh berjamaah, 7. Undangan disampaikan pada setiap warga/peserta belajar sholat tersebut, 8. Dalam beberapa pertemuan, kajian subuh/malam, fokus dan tuntas membahas tentang ‘sholat berjamaah’. Pembahasan berulang-ulang tentang sholat berjamaah merupakan strategi untuk penanaman yang lebih kuat dan dalam pada jamaah untuk dapat memahaminya. Sebuah kebohongan yang disampaikan berulang-ulang, suatu waktu akan dinilai sebagai kebenaran. Demikian dengan pesan kebaikan, harus disampaikan berulang-ulang agar hasilnya membekas. 

Tahun 2005, warga wajib sholat yang belum berjamaah di masjid adalah 50 orang. Kemudian tahun 2011, tersisa 27 orang dan tahun 2013, tinggal 4 orang. Tahun 2010, sholat subuh di Masjid Jogokariyan sudah mencapai 50% jumlah jamaah Sholat Subuh. Tahun 2016, targetnya adalah 75%. Untuk memelihara sholat berjamaah, dibentuk Tim Penjaring Sholat Berjamaah di setiap RT. Tim ini bertugas juga untuk memantau dan menjaga keberlanjutan warga dalam pelaksanaan sholat berjamaah. Jika ada warga yang tidak hadir dalam sholat berjamaah untuk beberapa waktu secara berurutan, maka dilakukan silaturahim untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan warga tersebut tidak dapat mengikuti sholat berjamaah. DKM harus merawat (memberikan pelayanan) ummatnya dengan baik. DKM harus memperhatikan ummatnya agar tidak ‘diterkam’ pihak lain. Gerakan sholat berjamaah harus masif dan massal. Ciptakan kemeriahan di dalamnya. Hadirkan suatu cara yang beda dan lain. DKM Jogokariyan kampanye melalui kaos oblong dengan tulisan “HARI GINI BELUM SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI MASJID????”

Jualan rokok saja ada marketingnya. Ada salesnya. Untuk gerakan sholat berjamaah, harus ada marketingnya juga. Harus terorganisasi dengan baik. Salah satunya dengan mengadakan Lomba Desain Kaos Dakwah. DKM bukan juru kunci masjid. Masjid jangan dikunci. Karena dikunci, maka pilihan untuk dugem rata-rata bukan masjid. Masjid Jogokariyan memiliki petugas yang berjaga selama 24 jam. Artinya, melayani jamaah untuk 24 jam dalam sehari. Silakan bagi yang mau melaksanakan itikaf dan sholat malam. Bagi jamaah yang khawatir dingin untuk wudhu, disediakan kran dengan air hangat. Masjid jangan kalah juga dengan faslitas hotel. Kursi roda juga bisa masuk masjid. DKM harus memikirkan dan memberikan layanan/fasilitas maksimal pada jamaahnya untuk nyaman beraktivitas di masjid. Tapi DKM juga harus memikirkan dan memperhatikan keadaan/kondisi penghidupan jamaahnya. Perhatikan kondisi ekonomi jamaahnya. Jangan hanya sekedar diajak untuk sholat berjamaah saja, tapi kondisi ekonominya tidak kita perhatikan. DKM pernah didatangi jamaah yang mengeluh karena dia tidak punya beras. Tersentaklah kami. Solusi awal dengan mengajak jamaah lainnya untuk menyisihkan berasnya  dan dibawa pada saat akan melaksanakan sholat. Langkah berikutnya, terbentuklah program Kotak Amal Beras. Setelah terhimpun dalam beberapa, beras tersebut diberikan pada jamaah yang kurang mampu. Jika bersisa, beras dijual. Dananya digunakan untuk program sosial lainnya. 

Gagasan lainnya muncul dalam pelaksanaan sholat Jumat. Setelah dilakukan penghitungan, pelaksanaan sholat Jumat dalam 1 bulan membutuhkan biaya sekitar sekian dengan jumlah jamaah sekian. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka keuangan masjid akan selalu minus. Dibuatlah sebuah spanduk berupa ajakan sekaligus kritikan : “Jika infak Anda 1.500, maka Anda membiayai sholat jumat di masjid ini. Jika infak Anda lebih dari Rp. 1.500, maka Anda memberikan subsidi pada jamaah lain untuk sholat Jumat di masjid ini. Jika infak Anda kurang dari Rp. 1.500, maka sholat jumat Anda di masjid ini, disubsidi oleh jamaah lain.” Hasilnya, beberapa bulan kemudian, keuangan masjid menjadi surplus. 

Gagasan lainnya, lantas atas masjid dibangun sebuah hotel yang terdiri dari 11 kamar. Levelnya bisa mendekati Hotel Bintang 3. Biayanya Cuma Rp. 150 ribu/malam. Fasilitasnya air hangat, AC, TV dan wiifi. Dari 11 kamar, 8 kamar dikenakan biaya/disewakan. Sementara 3 kamar tidak disewakan, digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya khusus, misal kedatangan tamu, narasumber, dll. Adanya hotel tersebut, operasional masjid jadi tercukupi. Sementara dana infak Jumat, dikembalikan untuk jamaah/warga. Antara lain dalam bentuk pelayanan Klinik Kesehatan Gratis, pemberantasan rentenir, bantuan untuk anak sekolah, bantuan untuk masjid lain, bantuan/pinjaman untuk jamaah, dan MLM (Mobil Layanan Masjid). Fungsi masjid sebagai layanan pada masyarakat juga harus dikedepankan. Kami masuk ke pasar juga. Membangun WC umum dan sanitasi air. Dikelola oleh relawan yang juga jamaah masjid. Kami juga mendorong pengadaan fasilitas air bersih di sebuah masjid di Kab Temanggung dengan mengalirkan air layaknya PDAM dengan sumbernya dari mata air yang berjarak 7 km di area milik perhutani. 

Kami memiliki 140 ribu donatur dengan infak minimal Rp. 1.000/hari/orang. Langkah lainnya kami membangun TOMIRA, Toko Milik Rakyat. Kami berikan modal untuk membeli barang secara langsung dari pabrik. Kemudian barang-barang tersebut disebar/didrop pada toko/warung jamaah. Dalam hal ini, masjid harus berperan juga untuk menyelamatkan jamaahnya. Ada peradaban masjid dan peradaban pasar. hanya masjid yang bisa menghadapi imperialis. Predator atas nama investor. Kekayaan alam Indonesia dikeruk. Hasilnya dibawa ke luar. Rakyat di sekitarnya tetap miskin. Masjid harus menguasai pasar bukan pasar menguasai masjid. Pemimpin unggul adalah pemimpin yang ditempa di masjid. Pemimpin harus lahir di masjid. 

Disampaikan juga tentang fungsi masjid di zaman Rasulalloh SAW, sebagai pusat pendidikan, pengajaran dan pengembangan ilmu. Masjid sebagai pusat peribadahan, informasi, menerima tamu negara, dan ruang tunggu tamu negara. Jika di suatu masjid tidak ada kegiatan kajian/pembelajaran, maka disebut mushola. Masjid Jami, maka masjid tersebut juga berfungsi sebagai pusat kajian. 

Jika menyambut Ramadhan, maka H-1 Ramadhan, ada subsidi beras dan sembako untuk jamaah kurang mampu. Dilaksanakan juga Sahur Berjamaah. Itikaf Ramadhan di Masjid Jogokariyan daftar tunggunya sudah full hingga 2 tahun mendatang. Jamaah masjid harus bertambah. Jika tidak bertambah, lakukan evaluasi dan susun langkah lain yang harus dilakukan. Satu hal harus selalu tertanam dalam diri kita “kebaikan akan mendatangkan orang baik”. Kegiatan lain yang dilakukan oleh DKM adalah Pesantren Desain Grafis, pelatihan nyetir mobil, kursus elektronik, pelayanan penukaran uang baru dan uang recehan (jika ada jamaah yang tidak memiliki uang kecil, sementara di saku hanya ada uang besar), perkumpulan jamaah pecinta sepeda ontel, jamaah pecinta alam, klub sepakbola, memiliki 30 biro/unit kegiatan. Hal tersebut sebagai upaya untuk memperbanyak pintu masjid agar semakin banyak warga yang mau bergabung menjadi jamaah masjid. 

Tiga puluh biro tersebut yaitu : HAMAS (Himpunan Anak-anak Masjid), RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan), Kurma (Keluarga Alumni Remaja Masjid), Ummi Muda, KAUM (Komite Aksi Untuk Ummat), PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), FKSM (Forum Kajian Selasa Malam), pemberdayaan perempuan, Kader Mubaligh, Humas dan Penerbitan (mengelola website dan medsos), ibadah haji, perpustakaan, Imam dan Muadzin, Layanan Perawatan Jenazah, Koordinasi Jamaah (tiap RT), Klinik, Donor Darah, Ibadah Jumat, Kerumahtanggaan, Olah Raga, Teknologi dan Informasi, Keamanan, Dokumentasi dan Arsip, pembangunan dan pemeliharaan, Seni Budaya, Bimbel Al-Qur’an, Zakat, Kuliah Subuh.

Masjid juga memiliki PETA DAKWAH. Peta yang menggambarkan jamaah yang menunaikan kurban, jamaah yang telah menunaikan Haji dan atau Umroh, muslim dan non muslim, mustahik, muzaki, belum bisa baca Al-Qur’an, sudah/belum berjamaah di masjid, masalah ekonomi, kebutuhan biaya sekolah, dll.  DKM juga memperhatikan tanggal lahir jamaahnya. DKM menyampaikan ucapan selamat dan mendoakan secara bersama-sama dengan jamaah lainnya. DKM juga menggagas PETUAH (Pesantren Sabtu dan Ahad) untuk remaja dengan acara favoritnya adalah JJS (Jalan-Jalan Seram), Tahajud bersama-sama, bersepeda bersama setelah kajian subuh, membuat ikat kepala dengan tulisan “Ayo Ke Masjid”, pesantren khusus tuna rungu, keluarga jamaah di hari sabtu dan minggu (kegiatan itikaf, sholat subuh, sarapan dan olahraga melibatkan beberapa keluarga), dll.  

Untuk memajukan Indonesia, diperlukan 7 juta muslim profesional untuk memberdayakan 70 juta penduduk muslim di seluruh nusantara. Jika saat ini terdapat 700 ribu masjid, minimal setiap masjid harus berkontribusi untuk menghasilkan 10 orang muslim profesional. Berani?