Kamis, 11 Februari 2016

Dari Masjid Membangun Ummat









Sabtu, 30 Januari 2016, Aula Rabbani Hijab. Gelaran Seminar The Power Of Sholat Subuh menghadirkan Ustad M. Jazir, ketua DKM jogokariyan Yogyakarta dan Ustad Hanan At-Taqi dari DKM Salman ITB Bandung. Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian sambutan dari Kang Demas selaku penanggung jawab program GASIBU (Gerakan Nasional Sholat Subuh Berjamaah), Kang Diki Budiana, ketua komunitas Pejuang Subuh Kota Bandung dan H. Nandang Komara, Direktur Operasional Rabbani.

Ustad Hanan At-Taqi menyampaikan bahwa adzan Sholat Subuh ada kalimat tambahan yang artinya Sholat lebih baik daripada tidur. Kalimat tersebut adalah panggilan untuk membangunkan orang dari tidur dan memberitahukan bahwa ada hal yang lebih baik daripada tidur, yaitu melaksanakan sholat. Patut disyukuri manakala kita bisa memenuhi panggilan/hidayah tersebut. Sebagaimana sebuah cerita : seorang pemuda mabuk berat. Sementara malam semakin larut. Dalam perjalanan pulang, dia tertidur di teras masjid. Dalam tidurnya, dia bermimpi ada seseorang yang memberinya sebuah A-Qur’an. Beberapa waktu kemudian, dia dipenjara karena suatu perkara. Di sel tahanan, ada seorang napi yang membaca Al-Qur’an. Dia penasaran. Dia ingin melihatnya. Kemudian dia ingat akan mimpinya. Akhirnya dia mau mempelajarinya dan hijrah menjadi seorang muslim. Setiap muslim pada dasarnya adalah seorang Da’i. Maka jadilah Da’i. Berkata, berpikir, bersikap dan bertindak seperti seorang Da’i, bertugas menyampaikan dakwah dan menerapkan dakwahnya. 

Pemahaman dari hadits “sampaikan meskipun satu ayat’, bukan semata dan hanya ‘memberitahukan’, melainkan sampaikan hal tersebut dengan cara yang baik, nyaman, strategi yang tepat, media yang pas, dan berdampak. Bahkan di sisi lain, sampaikan meskipun dapat membuat kita celaka/menderita. Artinya berjuang keras untuk menyampaikan dakwah tersebut. Kita arus dapat meyakinkan orang lain bahwa sholat lebih baik daripada tidur. Ibarat seorang marketing, kita bisa menjelaskan ‘spesifikasinya’, kemudahan cara mendapatkannya, perbedaan dalam penampilannya, dan kenyamanan dari dampak yang akan diperolehnya. Pada cerita lain : 2 orang pemuda anak band, masbuk Sholat Isya. Di masjid hanya mereka berdua. Tidak ada yang mau jadi imam. Mereka saling dorong untuk menyuruh di antara mereka menjadi imam. Ditempuhlah sebuah cara untuk menentukan siapa yang akan menjadi imam di antara mereka. SUTEN, pihak yang kalah jadi imam, sementara pihak yang menang jadi makmum. Cerita ini menyiratkan bahwa untuk saat tersebut, metode dan media itu yang membuat mereka nyaman untuk menunaikan kewajibannya. Tentu ada cara lain dalam berdakwah. Surat Nuh banyak mengungkap metode dakwah. GASIBU sebagai bagian dari dakwah, maka yakini bahwa dakwah kita pasti menang. Menangnya dakwah adalah soal waktu. Pilihannya, apakah kita hanya ingin mendapat peran sebagai penonton atau berkontribusi langsung dalam kemenangan dakwah tersebut?

Ustad M. Jazir menyampaikan paparan dengan tema “Dari Masjid Membangun Ummat”. Paparannya diawali dengan kalimat bahwa menjadi pengurus DKM akan mendudukkan seseorang menjadi manusia yang mulya. Dalam suatu hadits dinyatakan bahwa yang akan menjadi keluarga Alloh adalah para pemakmur masjid dan penghafal Al-Qur’an. Pemakmur masjid diberi jaminan dalam bimbingan Alloh dan menjadi pemakmur masjid adalah sebuah pengabdian yang mulya. Sholat Subuh di Masjid Jogokariyan, masjid yang terletak di Kampung Jogokariyan No. 36 kecamatan Mantrijeron Jogjakarya, jamaah sholat subuhnya mendekati jumlah jamaah Sholat Jumat. 

Bertugas menjadi DKM sejak tahun 1999, langkah kecil diawali dengan memetakan penduduk di kampung Jogokariyan yang terdiri dari 907 KK dengan 2.200 jiwa. Rinciannya, 816 jiwa wajib sholat dan 115 non muslim. Untuk menggerakkan sholat berjamaan di masjid, tahapan kegiatan yang dilakukan adalah : 1. Pengurus DKM berkunjung ke rumah setiap warga, 2. Memberitahukan program belajar sholat dengan fasilitas guru khusus untuk mengajarkan sholat, kain sarung/mukena, peci dan sajadah (ada biaya untuk guru), 3. Mengundang warga yang sudah diberikan pelajaran sholat untuk sholat berjamaah di masjid, 4. Undangan sholat berjamaah dibuat dengan undangan khusus dan istimewa layaknya undangan sebuah acara pernikahan/khitanan, 5. Dalam undangan dicantumkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits yang berkenaan dengan sholat 5 waktu dan keunggulan sholat berjamaah. 6. Diberikan fasilitas lebih dalam pelaksanaan sholat subuh, yaitu minum kopi/teh disertai camilan khas di pagi hari, bahkan disediakan beberapa unit hadiah dalam kegiatan sholat subuh berjamaah, 7. Undangan disampaikan pada setiap warga/peserta belajar sholat tersebut, 8. Dalam beberapa pertemuan, kajian subuh/malam, fokus dan tuntas membahas tentang ‘sholat berjamaah’. Pembahasan berulang-ulang tentang sholat berjamaah merupakan strategi untuk penanaman yang lebih kuat dan dalam pada jamaah untuk dapat memahaminya. Sebuah kebohongan yang disampaikan berulang-ulang, suatu waktu akan dinilai sebagai kebenaran. Demikian dengan pesan kebaikan, harus disampaikan berulang-ulang agar hasilnya membekas. 

Tahun 2005, warga wajib sholat yang belum berjamaah di masjid adalah 50 orang. Kemudian tahun 2011, tersisa 27 orang dan tahun 2013, tinggal 4 orang. Tahun 2010, sholat subuh di Masjid Jogokariyan sudah mencapai 50% jumlah jamaah Sholat Subuh. Tahun 2016, targetnya adalah 75%. Untuk memelihara sholat berjamaah, dibentuk Tim Penjaring Sholat Berjamaah di setiap RT. Tim ini bertugas juga untuk memantau dan menjaga keberlanjutan warga dalam pelaksanaan sholat berjamaah. Jika ada warga yang tidak hadir dalam sholat berjamaah untuk beberapa waktu secara berurutan, maka dilakukan silaturahim untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan warga tersebut tidak dapat mengikuti sholat berjamaah. DKM harus merawat (memberikan pelayanan) ummatnya dengan baik. DKM harus memperhatikan ummatnya agar tidak ‘diterkam’ pihak lain. Gerakan sholat berjamaah harus masif dan massal. Ciptakan kemeriahan di dalamnya. Hadirkan suatu cara yang beda dan lain. DKM Jogokariyan kampanye melalui kaos oblong dengan tulisan “HARI GINI BELUM SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI MASJID????”

Jualan rokok saja ada marketingnya. Ada salesnya. Untuk gerakan sholat berjamaah, harus ada marketingnya juga. Harus terorganisasi dengan baik. Salah satunya dengan mengadakan Lomba Desain Kaos Dakwah. DKM bukan juru kunci masjid. Masjid jangan dikunci. Karena dikunci, maka pilihan untuk dugem rata-rata bukan masjid. Masjid Jogokariyan memiliki petugas yang berjaga selama 24 jam. Artinya, melayani jamaah untuk 24 jam dalam sehari. Silakan bagi yang mau melaksanakan itikaf dan sholat malam. Bagi jamaah yang khawatir dingin untuk wudhu, disediakan kran dengan air hangat. Masjid jangan kalah juga dengan faslitas hotel. Kursi roda juga bisa masuk masjid. DKM harus memikirkan dan memberikan layanan/fasilitas maksimal pada jamaahnya untuk nyaman beraktivitas di masjid. Tapi DKM juga harus memikirkan dan memperhatikan keadaan/kondisi penghidupan jamaahnya. Perhatikan kondisi ekonomi jamaahnya. Jangan hanya sekedar diajak untuk sholat berjamaah saja, tapi kondisi ekonominya tidak kita perhatikan. DKM pernah didatangi jamaah yang mengeluh karena dia tidak punya beras. Tersentaklah kami. Solusi awal dengan mengajak jamaah lainnya untuk menyisihkan berasnya  dan dibawa pada saat akan melaksanakan sholat. Langkah berikutnya, terbentuklah program Kotak Amal Beras. Setelah terhimpun dalam beberapa, beras tersebut diberikan pada jamaah yang kurang mampu. Jika bersisa, beras dijual. Dananya digunakan untuk program sosial lainnya. 

Gagasan lainnya muncul dalam pelaksanaan sholat Jumat. Setelah dilakukan penghitungan, pelaksanaan sholat Jumat dalam 1 bulan membutuhkan biaya sekitar sekian dengan jumlah jamaah sekian. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka keuangan masjid akan selalu minus. Dibuatlah sebuah spanduk berupa ajakan sekaligus kritikan : “Jika infak Anda 1.500, maka Anda membiayai sholat jumat di masjid ini. Jika infak Anda lebih dari Rp. 1.500, maka Anda memberikan subsidi pada jamaah lain untuk sholat Jumat di masjid ini. Jika infak Anda kurang dari Rp. 1.500, maka sholat jumat Anda di masjid ini, disubsidi oleh jamaah lain.” Hasilnya, beberapa bulan kemudian, keuangan masjid menjadi surplus. 

Gagasan lainnya, lantas atas masjid dibangun sebuah hotel yang terdiri dari 11 kamar. Levelnya bisa mendekati Hotel Bintang 3. Biayanya Cuma Rp. 150 ribu/malam. Fasilitasnya air hangat, AC, TV dan wiifi. Dari 11 kamar, 8 kamar dikenakan biaya/disewakan. Sementara 3 kamar tidak disewakan, digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya khusus, misal kedatangan tamu, narasumber, dll. Adanya hotel tersebut, operasional masjid jadi tercukupi. Sementara dana infak Jumat, dikembalikan untuk jamaah/warga. Antara lain dalam bentuk pelayanan Klinik Kesehatan Gratis, pemberantasan rentenir, bantuan untuk anak sekolah, bantuan untuk masjid lain, bantuan/pinjaman untuk jamaah, dan MLM (Mobil Layanan Masjid). Fungsi masjid sebagai layanan pada masyarakat juga harus dikedepankan. Kami masuk ke pasar juga. Membangun WC umum dan sanitasi air. Dikelola oleh relawan yang juga jamaah masjid. Kami juga mendorong pengadaan fasilitas air bersih di sebuah masjid di Kab Temanggung dengan mengalirkan air layaknya PDAM dengan sumbernya dari mata air yang berjarak 7 km di area milik perhutani. 

Kami memiliki 140 ribu donatur dengan infak minimal Rp. 1.000/hari/orang. Langkah lainnya kami membangun TOMIRA, Toko Milik Rakyat. Kami berikan modal untuk membeli barang secara langsung dari pabrik. Kemudian barang-barang tersebut disebar/didrop pada toko/warung jamaah. Dalam hal ini, masjid harus berperan juga untuk menyelamatkan jamaahnya. Ada peradaban masjid dan peradaban pasar. hanya masjid yang bisa menghadapi imperialis. Predator atas nama investor. Kekayaan alam Indonesia dikeruk. Hasilnya dibawa ke luar. Rakyat di sekitarnya tetap miskin. Masjid harus menguasai pasar bukan pasar menguasai masjid. Pemimpin unggul adalah pemimpin yang ditempa di masjid. Pemimpin harus lahir di masjid. 

Disampaikan juga tentang fungsi masjid di zaman Rasulalloh SAW, sebagai pusat pendidikan, pengajaran dan pengembangan ilmu. Masjid sebagai pusat peribadahan, informasi, menerima tamu negara, dan ruang tunggu tamu negara. Jika di suatu masjid tidak ada kegiatan kajian/pembelajaran, maka disebut mushola. Masjid Jami, maka masjid tersebut juga berfungsi sebagai pusat kajian. 

Jika menyambut Ramadhan, maka H-1 Ramadhan, ada subsidi beras dan sembako untuk jamaah kurang mampu. Dilaksanakan juga Sahur Berjamaah. Itikaf Ramadhan di Masjid Jogokariyan daftar tunggunya sudah full hingga 2 tahun mendatang. Jamaah masjid harus bertambah. Jika tidak bertambah, lakukan evaluasi dan susun langkah lain yang harus dilakukan. Satu hal harus selalu tertanam dalam diri kita “kebaikan akan mendatangkan orang baik”. Kegiatan lain yang dilakukan oleh DKM adalah Pesantren Desain Grafis, pelatihan nyetir mobil, kursus elektronik, pelayanan penukaran uang baru dan uang recehan (jika ada jamaah yang tidak memiliki uang kecil, sementara di saku hanya ada uang besar), perkumpulan jamaah pecinta sepeda ontel, jamaah pecinta alam, klub sepakbola, memiliki 30 biro/unit kegiatan. Hal tersebut sebagai upaya untuk memperbanyak pintu masjid agar semakin banyak warga yang mau bergabung menjadi jamaah masjid. 

Tiga puluh biro tersebut yaitu : HAMAS (Himpunan Anak-anak Masjid), RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan), Kurma (Keluarga Alumni Remaja Masjid), Ummi Muda, KAUM (Komite Aksi Untuk Ummat), PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), FKSM (Forum Kajian Selasa Malam), pemberdayaan perempuan, Kader Mubaligh, Humas dan Penerbitan (mengelola website dan medsos), ibadah haji, perpustakaan, Imam dan Muadzin, Layanan Perawatan Jenazah, Koordinasi Jamaah (tiap RT), Klinik, Donor Darah, Ibadah Jumat, Kerumahtanggaan, Olah Raga, Teknologi dan Informasi, Keamanan, Dokumentasi dan Arsip, pembangunan dan pemeliharaan, Seni Budaya, Bimbel Al-Qur’an, Zakat, Kuliah Subuh.

Masjid juga memiliki PETA DAKWAH. Peta yang menggambarkan jamaah yang menunaikan kurban, jamaah yang telah menunaikan Haji dan atau Umroh, muslim dan non muslim, mustahik, muzaki, belum bisa baca Al-Qur’an, sudah/belum berjamaah di masjid, masalah ekonomi, kebutuhan biaya sekolah, dll.  DKM juga memperhatikan tanggal lahir jamaahnya. DKM menyampaikan ucapan selamat dan mendoakan secara bersama-sama dengan jamaah lainnya. DKM juga menggagas PETUAH (Pesantren Sabtu dan Ahad) untuk remaja dengan acara favoritnya adalah JJS (Jalan-Jalan Seram), Tahajud bersama-sama, bersepeda bersama setelah kajian subuh, membuat ikat kepala dengan tulisan “Ayo Ke Masjid”, pesantren khusus tuna rungu, keluarga jamaah di hari sabtu dan minggu (kegiatan itikaf, sholat subuh, sarapan dan olahraga melibatkan beberapa keluarga), dll.  

Untuk memajukan Indonesia, diperlukan 7 juta muslim profesional untuk memberdayakan 70 juta penduduk muslim di seluruh nusantara. Jika saat ini terdapat 700 ribu masjid, minimal setiap masjid harus berkontribusi untuk menghasilkan 10 orang muslim profesional. Berani?