Selasa, 28 Juli 2015

Membumikan BNI 46 di Kota Bekasi



Bertugas sebagai Koordinator PNPM MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarkat – Mandiri Perkotaan), di Kota Bekasi sejak April 2009 sd April 2013, tak lepas dari adanya kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan BNI 46.

Kerja sama ini diawali dalam sebuah diskusi singkat dengan Tim Marketing BNI 46 Kota Bekasi selepas kegiatan sosialisasi Kredit UKM pada Agustus 2010 di aula kelurahan Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede. Disampaikan beberapa hal yang memungkinkan terjadinya kerja sama saling menguntungkan di antara kedua pihak,  baik untuk masyarakat melalui lembaga BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang mengelola PNPM MP di tingkat kelurahan, maupun pihak BNI 46.

Langkah berikutnya Tim PNPM MP Kota Bekasi diminta oleh Tim Kampung BNI 46 untuk melakukan identifikasi terhadap berbagai kegiatan usaha yang dilakukan oleh kelompok masyarakat binaan PNPM MP.  Imbal dari kegiatan tersebut, BNI 46 berkenan untuk menjadi mitra utama dalam kegiatan Sosialisasi Kampanye dan Bazaar (Soskamzar) PNPM MP Kota Bekasi di 8 kelurahan lokasi PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu) Tahap III yang dilaksanakan mulai 7 November 2010 sampai dengan 12 Desember 2010.

Kegiatan Soskamzar dilaksanakan di kelurahan Arenjaya dan Durenjaya kecamatan BekasiTimur, kelurahan Margajaya dan Pekayon Jaya kecamatan Bekasi Selatan, kelurahan Jatisari kecamatan Jatiasih, kelurahan Perwira kecamatan Bekasi Utara, kelurahan Jatiraden kecamatan Jatisampurna, dan kelurahan Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede.  

Soskamzar diikuti oleh beberapa mitra, selain BNI 46, yaitu BJBS, BRI, KSP Swamitra, Adira Finance, Asuransi Prudential, PT. Wing Foods, Lembaga Kursus PEC, permen Go Fresh, Vermint dan Stimuno, Radio 8EH, Yayasan Granada, makanan sehat Milenia, Teh Poci, dan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) binaan BKM. Soskamzar diisi dengan aneka lomba dan games, marching band, hiburan musik dan puisi, bantuan sembako, bazaar produk KSM, dan melayani pembukaan rekening.

Selepas Soskamzar, kerja sama lebih erat dijajagi dengan diadakannya kegiatan pertemuan antara Tim Marketing BNI 46 dengan beberapa BKM di kecamatan Jatiasih dan Pondok Gede. Hasil dari pertemuan tersebut antara lain kesepakatan untuk fasilitasi pembukaan rekening BKM dan KSM di cabang BNI 46 terdekat. Kerja sama BNI 46 dan BKM di dua kecamatan tersebut, berlanjut dalam kegiatan Lokakarya Kecamatan dan fasilitasi kredit bagi UKM/KSM.

Kerja sama berikutnya adalah dalam acara Gelar Karya PNPM MP Kota yang dilaksanakan pada 21 dan 22 Juli 2011. Bertempat di Balai Patriot Komplek Kantor Walikota, Gelar Karya dilaksanakan sebagai bentuk sosialisasi massal di tingkat kota. Acara Gelar Karya diikuti oleh seluruh kelurahan yang tergabung dalam stan masing-masing kecamatan. Turut hadir pula stan Korkot, Kapermas, STMIK Bani Saleh, Unisma, BNI 46, RS Jatimulya, Sari Sedap dan KSM binaan BKM. Selain menampilkan program, progres dan kegiatan, ditampilkan pula produk unggulan KSM/kelompok binaan dari setiap wilayah. Kerja sama dengan BNI 46 terus berlanjut dalam pelaksanaan Gelar Karya II pada tahun 2012 dan Gelar Karya III pada tahun 2103.

Selain dalam kegiatan Sosialisasi Kredit UKM, Soskamzar dan Gelar Karya, BNI 46 Kota Bekasi berpartisipasi dengan memberikan bantuan dana untuk kegiatan infrastruktur rehab rumah di kelurahan Durenjaya dan pembangunan jalan rabat beton di kelurahan Jatisari, kegiatan Gebyar Amal dan Lomba kelurahan Jatikramat, kegiatan khitanan dalam rangka ulang tahun BNI 46 dan memfasilitasi kredit pada warga binaan PNPM MP yang memiliki UKM di kelurahan Durenjaya, Jatisari dan Jatiwaringin. BNI 46 juga turut berperan mensukseskan program lokal Kota Bekasi, DBHSPI (Dana Bantuan Hibah Stimulan Pembangunan Infrastruktur) tahun 2011 dan berubah menjadi P3BK (Program Pembangunan Partisipatif Berbasis Komunitas) pada tahun 2012 hingga sekarang.

berita terkait :



Out Of The Box



Come Out Of The Box. Raises ideas. Be creative. Make something different and more valuable. Salah satunya dalam acara Peletakan Batu Pertama. Pemikirannya, membuat acara tersebut beda dari biasanya. Tidak sama dengan yang umum terjadi, yaitu melulu dengan laporan dan sambutan kemudian di lokasi proyek meletakkan paving, batu belah, batu bata atau adukan pasir dan semen. Selesai.

Kegiatan rehab Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) di kelurahan Durenjaya kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi, dilaksanakan melalui PNPM MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Mandiri Perkotaan) dan PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu). Hingga saat ini telah direalisasikan 40 unit, yang terdiri dari 24 unit melalui PAKET dan 16 unit melalui PNPM MP. Rehab Rutilahu menjadi prioritas pertama dalam Renta (Rencana Tahunan) dan Program Kerja LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) Durenjaya dan sangat didukung oleh Lurah Durenjaya. Melalui PAKEM (Panitia Kemitraan) Griya Firdaus, LKM Durenjaya melakukan rehab Rutilahu sejumlah 14 unit dalam PAKET III. Total pendanaan Rp. 198.000.000 dengan rincian Rp. 64.000.000 (PAKET), Rp. 76.000.000 (APBD) dan Rp. 58.000.000 (Swadaya).

Peletakan batu pertama kegiatan rehab Rutilahu PAKET III kelurahan Durenjaya, rencananya akan dilaksanakan pada 27 Januari 2011. Penjadwalan mengalami perubahan terkait padatnya agenda pihak pemkot. Mundurnya jadwal tersebut, memberikan peluang pada LKM dan Tim Advanced untuk melakukan loby pada pihak Entrostop, mitra dalam Soskamzar (Sosialisasi Kampanye dan Bazaar). Selanjutnya Pokja PAKET menetapkan Lounching Rutilahu Durenjaya dilaksanakan pada 5 Februari 2011.

Pada 1 Februari 2011, bertempat di teras Masjid Al – Maghfiroh RT 4 RW 6, dilakukan rapat kecil. Dihadiri LKM, PAKEM Griya Firdaus, Pengurus RT dan RW serta pelaksana proyek, rapat menghasilkan beberapa kesepakatan. Haji Epi bertanggung jawab untuk menyediakan 1 unit tenda. Mulyana selaku ketua PAKEM Griya Firdaus, akan mengerahkan 50 siswa SDN Durenjaya III. PAUD Al – Maghfiroh yang dikepalai oleh Ibu Imas, akan menurunkan 30 siswa dalam kegiatan lomba mewarnai. Slamet, staf kelurahan, bertanggung jawab dalam pengadaan bambu untuk umbul-umbul dan soundsystem. Para Ketua RT dan RW, bertugas untuk mendatangkan warga dan Tim Marawis dari majelis taklim setempat.

Pada 3 Februari 2011, dilakukan pemasangan umbul-umbul, banner dan spanduk. Umbul-umbul PNPM MP hasil Soskamzar, terpasang mulai dari awal Jalan Ampera Gang Padat Karya. Spanduk PAKET menjadi backrop di teras Masjid Al – Maghfiroh, tempat utama berlangsungnya acara. Bendera kecil “Ayo Peduli Membangun Bumi Patriot” sejumlah 50 pcs, disiapkan Tim Advanced untuk dikibarkan oleh para siswa.

Di bawah rintik hujan, 5 Februari 2011, Wakil Walikota DR. H. Rahmat Effendi, M.Si (saat ini sebagai walikota Bekasi periode 2012 - 2017), hadir beserta tamu lainnya. Turut hadir, yaitu Camat Bekasi Timur, SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan DPRD. Kehadiran mereka disambut lambaian para siswa yang mengenakan seragam pramuka dan shalawat nabi yang dibawakan oleh Tim Marawis RW 6. Acara dimulai dengan laporan LKM, laporan Pokja PAKET, sambutan dan arahan Wakil Walikota. Acara ditutup dengan doa yang dibawakan oleh alim ulama RW 6.

Usai acara, Wakil Walikota berkenan meninjau kegiatan lomba mewarnai. Beliau melakukan sedikit dialog dengan salah satu peserta. Selanjutnya Wakil Walikota dan tamu lainnya mengunjungi rumah Ibu Uki Tukiyem, 1 dari 3 rumah yang direhab di RW 6. Taruna Widi Sakti Kalijaga, Fasilitator Teknik Tim Advanced dan Mulyana memberikan penjelasan pada Wakil Waalikota terkait kegiatan rehab tersebut. Sebelum meninggalkan lokasi, Wakil Walikota menyempatkan diri untuk melakukan neplok pada dinding rumah Ibu Uki Tukiyem. 

Pada pukul 10.30 WIB, selepas Wakil Walikota dan tamu lainnya meninggalkan RW 6, acara dilanjutkan dengan game, kuis dan serah terima bantuan dari Entrostop. Muhammad Irsyad selaku Koordinator Lapangan, menyerahkan dana sejumlah Rp. 600.000 untuk rehab Rutilahu, souvenir 5 set, kaos 10 pcs, alat tulis 30 set dan piala pada peserta lomba. Pihak BNI 46 yang datang di pengujung acara, diwakili Hika Kurnia Virgiantono – staf Marketing, juga berkenan menyerahkan 7 set souvenir pada LKM.

In rain, we pray, in order to do more for the community. Any kind is that simple. 

Kamis, 25 September 2014

Pulau Penyengat



Mendengar ungkapan bahwa belum lengkap datang ke Kepulauan Riau kalau belum singgah ke Pulau Penyengat, pada Ahad 7 September 2014, saya ditemani Kang Ery (Garut) dan Pa Asmen (Aceh) yang kebetulan bertugas sebagai Tenaga Ahli dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Provinsi Kepulauan Riau , berkesempatan untuk menjejakkan langkah di pulau tersebut. Berkendaraan angkot dengan tarif Rp. 4.000,  sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di pintu gerbang menuju dermaga yang melayani penyeberangan ke Pulau Penyengat. Dermaga ini bersebelahan dengan pelabuhan Tanjung Pinang yang melayani penyeberangan ke Kota Batam. Pintu gerbang dermaga masih sederhana hanya berupa plang melintang di atas jalan dengan bangunan di kiri dan kanan. Jalan masuk menuju dermaga berbelok dan di dinding kiri terdapat beberapa mural.

Selanjutnya kami membayar biaya penyeberangan dengan tarif Rp. 6.000 per orang. Disebut ‘biaya penyeberangan’ dan tidak disebut dengan membeli ‘tiket penyeberangan’, karena saat itu kami tidak menerima tiket sebagai bukti kami membayar biaya penyeberangan. Menunggu sekitar 5 menit, seluruh penumpang langsung naik perahu bermotor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pompong dan melaju menuju Pulau Penyengat.

Lima belas menit kemudian, kami tiba di pelantar dermaga Pulau Penyengat. Kami disambut dengan jajaran motor yang berbaris di sepanjang koridor/lorong dermaga dan beberapa kios kaki lima yang menjajakan makanan khas Tanjung Pinang. Berjalan 100 meter kemudian, kami sudah tiba di Masjid Raya Riau Pulau Penyengat. Mesjid berbalut warna kuning dan hijau itu, terbuat dari campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat, tampak berdiri kokoh meski telah berusia ratusan tahun.  Masjid Raya Riau Pulau Penyengat dibangun tahun 1803 oleh Sultan Mahmud.

Selanjutnya kami mengunjungi Kantor Istana yang sedang dicat ulang. Kami juga mengunjungi Balai Adat dengan sumur yang airnya tidak asin padahal hanya berjarak beberapa meter dari laut. Kami pun menapaki  pelantar yang terdapat persis di depan Balai Adat. Pelantar dengan panjang  lebih dari 100 meter tersebut, menampilkan daya pikat tersendiri, seakan kita bisa terus menjejak ke arah laut.  

Selepas dari Balai Adat, kami mengunjungi beberapa makam, antara lain  Makam Raja Haji Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda Riau IV, tahun 1725 - 17840, Pahlawan Nasional dan diabadikan namanya sebagai nama Bandara di Kota Tanjungpinang). Kemudian Makam Raja Ja’far (Yang Dipertuan Muda Riau VI, tahun 1805 – 1832), dan Raja Ali (Yang Dipertuan Muda Riau VII, tahun 1844 – 1857).  

Istirahat sejenak setelah Sholat Dhuhur, tour de Pulau Penyengat dilanjutkan dengan perjalanan menuju Benteng Bukit Kursi. Sebelum menaiki beberapa anak tangga, kami jumpai gudang mesiu dan kompleks makam lainnya. Mendaki jalan yang dipasangi bata, kami pun tiba di Benteng Bukit Kursi, benteng pertahanan yang dibangun menjelang terjadinya perang antara Kerajaan Riau dengan Belanda pada tahun 1782 - 1784.  Benteng tersebut dilengkapi meriam di tiap sudutnya. Betapa meriam-meriam tersebut disiapkan untuk menyambut datangnya kapal perang Belanda. Sejauh mata memandang, maka sejauh itulah moncong meriam diarahkan.

Sebelum kami mengakhiri kunjungan di Pulau Penyengat, kami mengunjungi sebuah bangunan yang unik, yaitu Perigi Putri. Bangunan tersebut merupakan tempat para putri kerajaan mencuci pakaian dan mandi. Perigi Putri tidak memiliki jendela dan lubang angin. Di dalamnya terdapat kolam dan tempat duduk untuk mencuci yang bentuknya menyerupai kursi panjang.

Mengelilingi Pulau Penyengat dengan beragam situsnya yang membuat takjub, di siang bolong dan tidak bertopi, terbuktilah bahwa pulau seluas 2 ha tersebut betul-betul menyengat. Dua botol air mineral, dirasakan masih kurang. Perlu waktu lebih dari 2 jam untuk berkeliling dan menikmati indahnya Pulau Penyengat. Berbeda dengan pengunjung lainnya yang menggunakan jasa ojeg dengan tarif sewa Rp. 30.000 untuk keliling selama 1 jam, kami memilih berkeliling dengan berjalan kaki.  Hasilnya? Kami tersengat dan takjub dengan ‘sejarah’ yang terdapat di Pulau Penyengat.

Tersengatnya kami di Pulau Penyengat, ternodai dengan beberapa hal yang tampak sepele dan kecil, tapi akan berdampak buruk terhadap kelestarian budaya yang ada. Di beberapa titik, kami perhatikan adanya bangunan berupa rumah dan kios yang tidak terawat. Bersebelahan dengan kompleks makam menuju Benteng Bukit Kursi, terdapat bangunan permanen yang telah dibongkar dan dibiarkan begitu saja. Sebuah pertanyaan layak diajukan, mengapa bangunan itu bisa berdiri dan kemudian dibongkar? Siapa yang membangun dan bagaimana perizinannya? Di sisi lain, dekat Perigi Putri, pembangunan beberapa rumah permanen lainnya bergeliat. Jalur air dari sumur pompa, pipanya menjalar, bersinggungan dan saling bersaing antara pemilik jaringan pipa yang satu dengan pemilik lainnya. Mencerminkan ke-aku-an pemiliknya dan bertolak belakang semangat ‘para leluhur’.

Di sisi lain, gedung 2 lantai sebagai pusat oleh-oleh, masih kosong belum terpakai. Sementara area lapangan beserta panggungnya yang berada di depan Masjid Raya, menjadi tempat favorit untuk istirahat para pengojeg dan arena bermain bagi anak-anak. Hampir di semua makam, tidak ada petugas khusus yang menyambut kedatangan pengunjung. Sementara pengemudi ojeg, melaju hilir mudik menyusuri setiap ruas jalan tanpa rute yang berurut dan teratur. Kondisi di Benteng Bukit Kursi, beberapa kios tidak terpakai dan telah mengalami kerusakan. Jalan setapak yang terbuat dari pasangan bata, di beberapa titik terlepas dan renggang.

Perlu kemauan yang kuat dan kebersamaan untuk menata Pulau Penyengat sebagai Jati Diri masyarakat Kepulauan Riau.  Hingga di kemudian hari, Pulau Penyengat menjadi magnet wisata di Kota Tanjung Pinang bahkan di Provinsi Kepulauan Riau. Pembenahan antara lain menyangkut pintu gerbang di area dermaga, pompong yang dapat tampil lebih menarik dan nyaman, optimalisasi area panggung dengan penampilan kesenian lokal minimal 1 kali dalam 1 bulan dengan ekspose dan promosi di berbagai media, moratorium dan lokalisasi rumah penduduk agar tidak merambah dan meluas ke berbagai wilayah di Pulau Penyengat dan diiringi dengan penataannya yang bersifat lokal dan berjati diri ‘Gurindam Dua Belas’.

Hal lainnya yaitu mempercantik tampilan ojeg dengan warna khas Pulau Penyengat, yaitu kuning dan hijau, pengaturan jam keberangkatan dan arus laju ojeg. Perlu ditata juga adalah jaringan pipa air dengan sentralisasi, pemasangan jaringan pipa bawah tanah dan pembuatan bak kontrol. Berikutnya penataan area Benteng Bukit Kursi, Peta Pulau Penyengat yang mulai tampak kusam, dan paling pokok, menumbuhkan jati diri para penduduknya bahwa mereka adalah pewaris dari budaya luhur Pulau Penyengat, sebuah pulau yang telah diajukan untuk menjadi Situs Warisan Dunia. Keterlibatan pihak swasta harus terus ditumbuhkan dan pemerintah bisa menggagasnya antara lain melalui Program Kampung Wisata Berbasis Komunitas. Pelibatan masyarakat setempat adalah mutlak untuk menjaga kelestarian Pulau Penyengat.