Kamis, 30 Juli 2015
Selasa, 28 Juli 2015
Membumikan BNI 46 di Kota Bekasi
Bertugas sebagai Koordinator PNPM
MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarkat – Mandiri Perkotaan),
di Kota Bekasi sejak
April 2009 sd April 2013, tak lepas dari adanya kerja sama dengan berbagai
pihak. Salah satunya dengan BNI 46.
Kerja sama ini diawali dalam sebuah diskusi singkat
dengan Tim Marketing BNI 46 Kota Bekasi selepas kegiatan sosialisasi Kredit UKM
pada Agustus 2010 di aula kelurahan Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede. Disampaikan
beberapa hal yang memungkinkan terjadinya kerja sama saling menguntungkan di
antara kedua pihak, baik untuk
masyarakat melalui lembaga BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang mengelola
PNPM MP di tingkat kelurahan, maupun pihak BNI 46.
Langkah berikutnya Tim PNPM MP Kota Bekasi diminta oleh
Tim Kampung BNI 46 untuk melakukan identifikasi terhadap berbagai kegiatan
usaha yang dilakukan oleh kelompok masyarakat binaan PNPM MP. Imbal dari kegiatan tersebut, BNI 46 berkenan
untuk menjadi mitra utama dalam kegiatan Sosialisasi Kampanye dan Bazaar
(Soskamzar) PNPM MP Kota Bekasi di 8 kelurahan lokasi PAKET (Penanggulangan
Kemiskinan Terpadu) Tahap III yang dilaksanakan mulai 7 November 2010 sampai
dengan 12 Desember 2010.
Kegiatan Soskamzar dilaksanakan di kelurahan Arenjaya dan
Durenjaya kecamatan BekasiTimur, kelurahan Margajaya dan Pekayon Jaya kecamatan
Bekasi Selatan, kelurahan Jatisari kecamatan Jatiasih, kelurahan Perwira
kecamatan Bekasi Utara, kelurahan Jatiraden kecamatan Jatisampurna, dan kelurahan
Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede.
Soskamzar diikuti oleh beberapa mitra, selain BNI 46,
yaitu BJBS, BRI, KSP Swamitra, Adira Finance, Asuransi Prudential, PT. Wing
Foods, Lembaga Kursus PEC,
permen Go Fresh, Vermint dan Stimuno, Radio 8EH, Yayasan Granada, makanan sehat Milenia, Teh
Poci, dan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) binaan BKM. Soskamzar
diisi dengan aneka lomba dan games, marching band, hiburan musik dan puisi, bantuan
sembako, bazaar produk KSM, dan melayani pembukaan rekening.
Selepas Soskamzar, kerja sama lebih erat dijajagi dengan
diadakannya kegiatan pertemuan antara Tim Marketing BNI 46 dengan beberapa BKM
di kecamatan Jatiasih dan Pondok Gede. Hasil dari pertemuan tersebut antara
lain kesepakatan untuk fasilitasi pembukaan rekening BKM dan KSM di cabang BNI
46 terdekat. Kerja sama BNI 46 dan BKM di dua kecamatan tersebut, berlanjut
dalam kegiatan Lokakarya Kecamatan dan fasilitasi kredit bagi UKM/KSM.
Kerja sama berikutnya adalah dalam acara
Gelar Karya PNPM MP Kota yang dilaksanakan pada
21 dan 22 Juli 2011. Bertempat di Balai Patriot Komplek Kantor Walikota,
Gelar Karya dilaksanakan sebagai bentuk sosialisasi massal di tingkat kota.
Acara Gelar Karya diikuti oleh seluruh kelurahan yang tergabung dalam stan
masing-masing kecamatan. Turut
hadir pula stan Korkot, Kapermas, STMIK Bani Saleh, Unisma, BNI 46, RS Jatimulya, Sari Sedap
dan KSM binaan BKM. Selain menampilkan program, progres dan kegiatan,
ditampilkan pula produk unggulan KSM/kelompok binaan dari setiap wilayah. Kerja sama dengan BNI 46 terus berlanjut dalam pelaksanaan
Gelar Karya II
pada tahun 2012 dan Gelar Karya III pada tahun 2103.
Selain dalam kegiatan Sosialisasi Kredit UKM, Soskamzar
dan Gelar Karya, BNI 46 Kota Bekasi berpartisipasi dengan memberikan bantuan
dana untuk kegiatan infrastruktur rehab rumah di kelurahan Durenjaya dan
pembangunan jalan rabat beton di kelurahan Jatisari, kegiatan Gebyar Amal dan
Lomba kelurahan Jatikramat, kegiatan khitanan dalam rangka ulang tahun BNI 46 dan
memfasilitasi kredit pada warga binaan PNPM MP yang memiliki UKM di kelurahan
Durenjaya, Jatisari dan Jatiwaringin. BNI 46 juga turut berperan mensukseskan
program lokal Kota Bekasi, DBHSPI (Dana Bantuan Hibah Stimulan Pembangunan Infrastruktur)
tahun 2011 dan berubah menjadi P3BK (Program Pembangunan Partisipatif Berbasis
Komunitas) pada tahun 2012 hingga sekarang.
berita terkait :
Out Of The Box
Come
Out Of The Box. Raises ideas. Be creative. Make something different and more
valuable. Salah satunya dalam acara Peletakan Batu
Pertama. Pemikirannya, membuat acara tersebut beda dari biasanya. Tidak sama
dengan yang umum terjadi, yaitu melulu dengan laporan dan sambutan kemudian di
lokasi proyek meletakkan paving, batu belah, batu bata atau adukan pasir dan
semen. Selesai.
Kegiatan rehab Rutilahu
(Rumah Tidak Layak Huni) di kelurahan Durenjaya kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi, dilaksanakan melalui PNPM MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Mandiri Perkotaan) dan PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu). Hingga saat ini
telah direalisasikan 40 unit, yang terdiri dari 24 unit melalui PAKET dan 16 unit melalui PNPM
MP. Rehab Rutilahu menjadi prioritas pertama dalam Renta (Rencana Tahunan) dan Program Kerja LKM
(Lembaga Keswadayaan Masyarakat) Durenjaya dan sangat didukung oleh Lurah Durenjaya. Melalui PAKEM (Panitia Kemitraan) Griya
Firdaus, LKM Durenjaya melakukan rehab Rutilahu sejumlah 14 unit dalam PAKET III. Total pendanaan Rp. 198.000.000 dengan
rincian Rp. 64.000.000 (PAKET), Rp. 76.000.000 (APBD) dan Rp. 58.000.000 (Swadaya).
Peletakan batu pertama
kegiatan rehab Rutilahu PAKET III kelurahan Durenjaya, rencananya akan dilaksanakan pada 27 Januari 2011.
Penjadwalan mengalami perubahan terkait padatnya agenda pihak pemkot. Mundurnya
jadwal tersebut, memberikan peluang pada LKM dan Tim Advanced untuk melakukan loby
pada pihak Entrostop, mitra dalam Soskamzar (Sosialisasi Kampanye dan Bazaar). Selanjutnya Pokja PAKET menetapkan
Lounching Rutilahu Durenjaya
dilaksanakan pada 5 Februari 2011.
Pada 1 Februari 2011,
bertempat di teras Masjid Al – Maghfiroh RT 4 RW 6, dilakukan rapat kecil.
Dihadiri LKM, PAKEM Griya Firdaus, Pengurus RT dan RW serta pelaksana proyek,
rapat menghasilkan beberapa kesepakatan. Haji Epi bertanggung jawab untuk
menyediakan 1 unit tenda. Mulyana selaku ketua PAKEM Griya Firdaus, akan
mengerahkan 50 siswa SDN Durenjaya III. PAUD Al – Maghfiroh yang dikepalai oleh
Ibu Imas, akan menurunkan 30 siswa dalam kegiatan lomba mewarnai. Slamet, staf
kelurahan, bertanggung jawab dalam pengadaan bambu untuk umbul-umbul dan
soundsystem. Para Ketua RT dan RW, bertugas untuk mendatangkan warga dan Tim
Marawis dari majelis taklim setempat.
Pada 3 Februari 2011,
dilakukan pemasangan umbul-umbul, banner dan spanduk. Umbul-umbul PNPM MP hasil Soskamzar, terpasang mulai dari
awal Jalan Ampera Gang Padat Karya. Spanduk PAKET menjadi backrop di teras
Masjid Al – Maghfiroh, tempat utama berlangsungnya acara. Bendera kecil “Ayo
Peduli Membangun Bumi Patriot” sejumlah 50 pcs, disiapkan Tim Advanced untuk
dikibarkan oleh para siswa.
Di bawah rintik hujan,
5 Februari 2011, Wakil Walikota DR. H. Rahmat Effendi, M.Si (saat ini sebagai walikota Bekasi periode 2012 - 2017), hadir beserta tamu
lainnya. Turut hadir, yaitu Camat Bekasi Timur, SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan DPRD. Kehadiran mereka
disambut lambaian para siswa yang mengenakan seragam pramuka dan shalawat nabi
yang dibawakan oleh Tim Marawis RW 6. Acara dimulai dengan laporan LKM, laporan
Pokja PAKET, sambutan dan arahan Wakil Walikota. Acara ditutup dengan doa yang
dibawakan oleh alim ulama RW 6.
Usai acara, Wakil Walikota
berkenan meninjau kegiatan lomba mewarnai. Beliau melakukan sedikit dialog
dengan salah satu peserta. Selanjutnya Wakil Walikota dan tamu lainnya mengunjungi
rumah Ibu Uki Tukiyem, 1 dari 3 rumah yang direhab di RW 6. Taruna Widi Sakti
Kalijaga, Fasilitator Teknik Tim Advanced dan Mulyana memberikan penjelasan pada
Wakil Waalikota terkait kegiatan rehab tersebut. Sebelum meninggalkan lokasi, Wakil Walikota
menyempatkan diri untuk melakukan neplok pada dinding rumah Ibu Uki
Tukiyem.
Pada pukul 10.30 WIB,
selepas Wakil Walikota dan tamu lainnya meninggalkan RW 6, acara dilanjutkan dengan
game, kuis dan serah terima bantuan dari Entrostop. Muhammad Irsyad selaku
Koordinator Lapangan, menyerahkan dana sejumlah Rp. 600.000 untuk rehab
Rutilahu, souvenir 5 set, kaos 10 pcs, alat tulis 30 set dan piala pada peserta
lomba. Pihak BNI 46 yang datang di pengujung acara, diwakili Hika Kurnia
Virgiantono – staf Marketing, juga berkenan menyerahkan 7 set souvenir pada
LKM.
In rain, we pray, in order to do more for
the community. Any kind is that simple.
Kamis, 25 September 2014
Pulau Penyengat
Mendengar ungkapan bahwa
belum lengkap datang ke Kepulauan Riau kalau belum singgah ke Pulau Penyengat,
pada Ahad 7 September 2014, saya ditemani Kang Ery (Garut) dan Pa Asmen (Aceh)
yang kebetulan bertugas sebagai Tenaga Ahli dalam Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) Provinsi Kepulauan Riau , berkesempatan untuk menjejakkan
langkah di pulau tersebut. Berkendaraan angkot dengan tarif Rp. 4.000, sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di pintu
gerbang menuju dermaga yang melayani penyeberangan ke Pulau Penyengat. Dermaga
ini bersebelahan dengan pelabuhan Tanjung Pinang yang melayani penyeberangan ke
Kota Batam. Pintu gerbang dermaga masih sederhana hanya berupa plang melintang
di atas jalan dengan bangunan di kiri dan kanan. Jalan masuk menuju dermaga berbelok
dan di dinding kiri terdapat beberapa mural.
Selanjutnya kami membayar biaya penyeberangan dengan
tarif Rp. 6.000 per orang. Disebut ‘biaya penyeberangan’ dan tidak disebut
dengan membeli ‘tiket penyeberangan’, karena saat itu kami tidak menerima tiket
sebagai bukti kami membayar biaya penyeberangan. Menunggu sekitar 5 menit,
seluruh penumpang langsung naik perahu bermotor atau yang lebih dikenal dengan
sebutan pompong dan melaju menuju
Pulau Penyengat.
Lima belas menit kemudian, kami tiba di pelantar dermaga
Pulau Penyengat. Kami disambut dengan jajaran motor yang berbaris di sepanjang
koridor/lorong dermaga dan beberapa kios kaki lima yang menjajakan makanan khas
Tanjung Pinang. Berjalan 100 meter kemudian, kami sudah tiba di Masjid Raya
Riau Pulau Penyengat. Mesjid berbalut warna kuning dan hijau itu, terbuat dari campuran
putih telur, kapur, pasir dan tanah liat, tampak berdiri kokoh meski telah
berusia ratusan tahun. Masjid Raya Riau
Pulau Penyengat dibangun tahun 1803 oleh Sultan Mahmud.
Selanjutnya kami mengunjungi Kantor Istana yang
sedang dicat ulang. Kami juga mengunjungi Balai Adat dengan sumur yang airnya
tidak asin padahal hanya berjarak beberapa meter dari laut. Kami pun menapaki pelantar yang terdapat persis di depan Balai Adat.
Pelantar dengan panjang lebih dari 100
meter tersebut, menampilkan daya pikat tersendiri, seakan kita bisa terus
menjejak ke arah laut.
Selepas dari Balai Adat, kami mengunjungi beberapa
makam, antara lain Makam Raja Haji
Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda Riau IV, tahun 1725 - 17840, Pahlawan
Nasional dan diabadikan namanya sebagai nama Bandara di Kota Tanjungpinang).
Kemudian Makam Raja Ja’far (Yang Dipertuan Muda Riau VI, tahun 1805 – 1832), dan
Raja Ali (Yang Dipertuan Muda Riau VII, tahun 1844 – 1857).
Istirahat sejenak setelah Sholat Dhuhur, tour de
Pulau Penyengat dilanjutkan dengan perjalanan menuju Benteng Bukit Kursi.
Sebelum menaiki beberapa anak tangga, kami jumpai gudang mesiu dan kompleks
makam lainnya. Mendaki jalan yang dipasangi bata, kami pun tiba di Benteng
Bukit Kursi, benteng pertahanan yang dibangun menjelang terjadinya perang
antara Kerajaan Riau dengan Belanda pada tahun 1782 - 1784. Benteng tersebut dilengkapi meriam di tiap sudutnya.
Betapa meriam-meriam tersebut disiapkan untuk menyambut datangnya kapal perang
Belanda. Sejauh mata memandang, maka sejauh itulah moncong meriam diarahkan.
Sebelum kami mengakhiri kunjungan di Pulau Penyengat,
kami mengunjungi sebuah bangunan yang unik, yaitu Perigi Putri. Bangunan tersebut
merupakan tempat para putri kerajaan mencuci pakaian dan mandi. Perigi Putri
tidak memiliki jendela dan lubang angin. Di dalamnya terdapat kolam dan tempat
duduk untuk mencuci yang bentuknya menyerupai kursi panjang.
Mengelilingi Pulau Penyengat dengan beragam situsnya
yang membuat takjub, di siang bolong dan tidak bertopi, terbuktilah bahwa pulau
seluas 2 ha tersebut betul-betul menyengat. Dua botol air mineral, dirasakan
masih kurang. Perlu waktu lebih dari 2 jam untuk berkeliling dan menikmati
indahnya Pulau Penyengat. Berbeda dengan pengunjung lainnya yang menggunakan
jasa ojeg dengan tarif sewa Rp. 30.000 untuk keliling selama 1 jam, kami
memilih berkeliling dengan berjalan kaki. Hasilnya? Kami tersengat dan takjub dengan ‘sejarah’
yang terdapat di Pulau Penyengat.
Tersengatnya kami di Pulau Penyengat, ternodai dengan
beberapa hal yang tampak sepele dan kecil, tapi akan berdampak buruk terhadap
kelestarian budaya yang ada. Di beberapa titik, kami perhatikan adanya bangunan
berupa rumah dan kios yang tidak terawat. Bersebelahan dengan kompleks makam
menuju Benteng Bukit Kursi, terdapat bangunan permanen yang telah dibongkar dan
dibiarkan begitu saja. Sebuah pertanyaan layak diajukan, mengapa bangunan itu
bisa berdiri dan kemudian dibongkar? Siapa yang membangun dan bagaimana
perizinannya? Di sisi lain, dekat Perigi Putri, pembangunan beberapa rumah permanen
lainnya bergeliat. Jalur air dari sumur pompa, pipanya menjalar, bersinggungan
dan saling bersaing antara pemilik jaringan pipa yang satu dengan pemilik
lainnya. Mencerminkan ke-aku-an pemiliknya dan bertolak belakang semangat ‘para
leluhur’.
Di sisi lain, gedung 2 lantai sebagai pusat oleh-oleh,
masih kosong belum terpakai. Sementara area lapangan beserta panggungnya yang
berada di depan Masjid Raya, menjadi tempat favorit untuk istirahat para
pengojeg dan arena bermain bagi anak-anak. Hampir di semua makam, tidak ada
petugas khusus yang menyambut kedatangan pengunjung. Sementara pengemudi ojeg, melaju
hilir mudik menyusuri setiap ruas jalan tanpa rute yang berurut dan teratur. Kondisi
di Benteng Bukit Kursi, beberapa kios tidak terpakai dan telah mengalami
kerusakan. Jalan setapak yang terbuat dari pasangan bata, di beberapa titik
terlepas dan renggang.
Perlu kemauan yang kuat dan kebersamaan untuk menata
Pulau Penyengat sebagai Jati Diri masyarakat Kepulauan Riau. Hingga di kemudian hari, Pulau Penyengat menjadi
magnet wisata di Kota Tanjung Pinang bahkan di Provinsi Kepulauan Riau.
Pembenahan antara lain menyangkut pintu gerbang di area dermaga, pompong yang dapat tampil lebih menarik dan
nyaman, optimalisasi area panggung dengan penampilan kesenian lokal minimal 1
kali dalam 1 bulan dengan ekspose dan promosi di berbagai media, moratorium dan
lokalisasi rumah penduduk agar tidak merambah dan meluas ke berbagai wilayah di
Pulau Penyengat dan diiringi dengan penataannya yang bersifat lokal dan berjati
diri ‘Gurindam Dua Belas’.
Hal lainnya yaitu mempercantik tampilan ojeg dengan
warna khas Pulau Penyengat, yaitu kuning dan hijau, pengaturan jam
keberangkatan dan arus laju ojeg. Perlu ditata juga adalah jaringan pipa air
dengan sentralisasi, pemasangan jaringan pipa bawah tanah dan pembuatan bak
kontrol. Berikutnya penataan area Benteng Bukit Kursi, Peta Pulau Penyengat
yang mulai tampak kusam, dan paling pokok, menumbuhkan jati diri para penduduknya
bahwa mereka adalah pewaris dari budaya luhur Pulau Penyengat, sebuah pulau
yang telah diajukan untuk menjadi Situs Warisan Dunia. Keterlibatan pihak
swasta harus terus ditumbuhkan dan pemerintah bisa menggagasnya antara lain
melalui Program Kampung Wisata Berbasis Komunitas. Pelibatan masyarakat
setempat adalah mutlak untuk menjaga kelestarian Pulau Penyengat.
Langganan:
Postingan (Atom)
