Selasa, 28 Juli 2015

Out Of The Box



Come Out Of The Box. Raises ideas. Be creative. Make something different and more valuable. Salah satunya dalam acara Peletakan Batu Pertama. Pemikirannya, membuat acara tersebut beda dari biasanya. Tidak sama dengan yang umum terjadi, yaitu melulu dengan laporan dan sambutan kemudian di lokasi proyek meletakkan paving, batu belah, batu bata atau adukan pasir dan semen. Selesai.

Kegiatan rehab Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) di kelurahan Durenjaya kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi, dilaksanakan melalui PNPM MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Mandiri Perkotaan) dan PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu). Hingga saat ini telah direalisasikan 40 unit, yang terdiri dari 24 unit melalui PAKET dan 16 unit melalui PNPM MP. Rehab Rutilahu menjadi prioritas pertama dalam Renta (Rencana Tahunan) dan Program Kerja LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) Durenjaya dan sangat didukung oleh Lurah Durenjaya. Melalui PAKEM (Panitia Kemitraan) Griya Firdaus, LKM Durenjaya melakukan rehab Rutilahu sejumlah 14 unit dalam PAKET III. Total pendanaan Rp. 198.000.000 dengan rincian Rp. 64.000.000 (PAKET), Rp. 76.000.000 (APBD) dan Rp. 58.000.000 (Swadaya).

Peletakan batu pertama kegiatan rehab Rutilahu PAKET III kelurahan Durenjaya, rencananya akan dilaksanakan pada 27 Januari 2011. Penjadwalan mengalami perubahan terkait padatnya agenda pihak pemkot. Mundurnya jadwal tersebut, memberikan peluang pada LKM dan Tim Advanced untuk melakukan loby pada pihak Entrostop, mitra dalam Soskamzar (Sosialisasi Kampanye dan Bazaar). Selanjutnya Pokja PAKET menetapkan Lounching Rutilahu Durenjaya dilaksanakan pada 5 Februari 2011.

Pada 1 Februari 2011, bertempat di teras Masjid Al – Maghfiroh RT 4 RW 6, dilakukan rapat kecil. Dihadiri LKM, PAKEM Griya Firdaus, Pengurus RT dan RW serta pelaksana proyek, rapat menghasilkan beberapa kesepakatan. Haji Epi bertanggung jawab untuk menyediakan 1 unit tenda. Mulyana selaku ketua PAKEM Griya Firdaus, akan mengerahkan 50 siswa SDN Durenjaya III. PAUD Al – Maghfiroh yang dikepalai oleh Ibu Imas, akan menurunkan 30 siswa dalam kegiatan lomba mewarnai. Slamet, staf kelurahan, bertanggung jawab dalam pengadaan bambu untuk umbul-umbul dan soundsystem. Para Ketua RT dan RW, bertugas untuk mendatangkan warga dan Tim Marawis dari majelis taklim setempat.

Pada 3 Februari 2011, dilakukan pemasangan umbul-umbul, banner dan spanduk. Umbul-umbul PNPM MP hasil Soskamzar, terpasang mulai dari awal Jalan Ampera Gang Padat Karya. Spanduk PAKET menjadi backrop di teras Masjid Al – Maghfiroh, tempat utama berlangsungnya acara. Bendera kecil “Ayo Peduli Membangun Bumi Patriot” sejumlah 50 pcs, disiapkan Tim Advanced untuk dikibarkan oleh para siswa.

Di bawah rintik hujan, 5 Februari 2011, Wakil Walikota DR. H. Rahmat Effendi, M.Si (saat ini sebagai walikota Bekasi periode 2012 - 2017), hadir beserta tamu lainnya. Turut hadir, yaitu Camat Bekasi Timur, SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan DPRD. Kehadiran mereka disambut lambaian para siswa yang mengenakan seragam pramuka dan shalawat nabi yang dibawakan oleh Tim Marawis RW 6. Acara dimulai dengan laporan LKM, laporan Pokja PAKET, sambutan dan arahan Wakil Walikota. Acara ditutup dengan doa yang dibawakan oleh alim ulama RW 6.

Usai acara, Wakil Walikota berkenan meninjau kegiatan lomba mewarnai. Beliau melakukan sedikit dialog dengan salah satu peserta. Selanjutnya Wakil Walikota dan tamu lainnya mengunjungi rumah Ibu Uki Tukiyem, 1 dari 3 rumah yang direhab di RW 6. Taruna Widi Sakti Kalijaga, Fasilitator Teknik Tim Advanced dan Mulyana memberikan penjelasan pada Wakil Waalikota terkait kegiatan rehab tersebut. Sebelum meninggalkan lokasi, Wakil Walikota menyempatkan diri untuk melakukan neplok pada dinding rumah Ibu Uki Tukiyem. 

Pada pukul 10.30 WIB, selepas Wakil Walikota dan tamu lainnya meninggalkan RW 6, acara dilanjutkan dengan game, kuis dan serah terima bantuan dari Entrostop. Muhammad Irsyad selaku Koordinator Lapangan, menyerahkan dana sejumlah Rp. 600.000 untuk rehab Rutilahu, souvenir 5 set, kaos 10 pcs, alat tulis 30 set dan piala pada peserta lomba. Pihak BNI 46 yang datang di pengujung acara, diwakili Hika Kurnia Virgiantono – staf Marketing, juga berkenan menyerahkan 7 set souvenir pada LKM.

In rain, we pray, in order to do more for the community. Any kind is that simple. 

Kamis, 25 September 2014

Pulau Penyengat



Mendengar ungkapan bahwa belum lengkap datang ke Kepulauan Riau kalau belum singgah ke Pulau Penyengat, pada Ahad 7 September 2014, saya ditemani Kang Ery (Garut) dan Pa Asmen (Aceh) yang kebetulan bertugas sebagai Tenaga Ahli dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Provinsi Kepulauan Riau , berkesempatan untuk menjejakkan langkah di pulau tersebut. Berkendaraan angkot dengan tarif Rp. 4.000,  sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di pintu gerbang menuju dermaga yang melayani penyeberangan ke Pulau Penyengat. Dermaga ini bersebelahan dengan pelabuhan Tanjung Pinang yang melayani penyeberangan ke Kota Batam. Pintu gerbang dermaga masih sederhana hanya berupa plang melintang di atas jalan dengan bangunan di kiri dan kanan. Jalan masuk menuju dermaga berbelok dan di dinding kiri terdapat beberapa mural.

Selanjutnya kami membayar biaya penyeberangan dengan tarif Rp. 6.000 per orang. Disebut ‘biaya penyeberangan’ dan tidak disebut dengan membeli ‘tiket penyeberangan’, karena saat itu kami tidak menerima tiket sebagai bukti kami membayar biaya penyeberangan. Menunggu sekitar 5 menit, seluruh penumpang langsung naik perahu bermotor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pompong dan melaju menuju Pulau Penyengat.

Lima belas menit kemudian, kami tiba di pelantar dermaga Pulau Penyengat. Kami disambut dengan jajaran motor yang berbaris di sepanjang koridor/lorong dermaga dan beberapa kios kaki lima yang menjajakan makanan khas Tanjung Pinang. Berjalan 100 meter kemudian, kami sudah tiba di Masjid Raya Riau Pulau Penyengat. Mesjid berbalut warna kuning dan hijau itu, terbuat dari campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat, tampak berdiri kokoh meski telah berusia ratusan tahun.  Masjid Raya Riau Pulau Penyengat dibangun tahun 1803 oleh Sultan Mahmud.

Selanjutnya kami mengunjungi Kantor Istana yang sedang dicat ulang. Kami juga mengunjungi Balai Adat dengan sumur yang airnya tidak asin padahal hanya berjarak beberapa meter dari laut. Kami pun menapaki  pelantar yang terdapat persis di depan Balai Adat. Pelantar dengan panjang  lebih dari 100 meter tersebut, menampilkan daya pikat tersendiri, seakan kita bisa terus menjejak ke arah laut.  

Selepas dari Balai Adat, kami mengunjungi beberapa makam, antara lain  Makam Raja Haji Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda Riau IV, tahun 1725 - 17840, Pahlawan Nasional dan diabadikan namanya sebagai nama Bandara di Kota Tanjungpinang). Kemudian Makam Raja Ja’far (Yang Dipertuan Muda Riau VI, tahun 1805 – 1832), dan Raja Ali (Yang Dipertuan Muda Riau VII, tahun 1844 – 1857).  

Istirahat sejenak setelah Sholat Dhuhur, tour de Pulau Penyengat dilanjutkan dengan perjalanan menuju Benteng Bukit Kursi. Sebelum menaiki beberapa anak tangga, kami jumpai gudang mesiu dan kompleks makam lainnya. Mendaki jalan yang dipasangi bata, kami pun tiba di Benteng Bukit Kursi, benteng pertahanan yang dibangun menjelang terjadinya perang antara Kerajaan Riau dengan Belanda pada tahun 1782 - 1784.  Benteng tersebut dilengkapi meriam di tiap sudutnya. Betapa meriam-meriam tersebut disiapkan untuk menyambut datangnya kapal perang Belanda. Sejauh mata memandang, maka sejauh itulah moncong meriam diarahkan.

Sebelum kami mengakhiri kunjungan di Pulau Penyengat, kami mengunjungi sebuah bangunan yang unik, yaitu Perigi Putri. Bangunan tersebut merupakan tempat para putri kerajaan mencuci pakaian dan mandi. Perigi Putri tidak memiliki jendela dan lubang angin. Di dalamnya terdapat kolam dan tempat duduk untuk mencuci yang bentuknya menyerupai kursi panjang.

Mengelilingi Pulau Penyengat dengan beragam situsnya yang membuat takjub, di siang bolong dan tidak bertopi, terbuktilah bahwa pulau seluas 2 ha tersebut betul-betul menyengat. Dua botol air mineral, dirasakan masih kurang. Perlu waktu lebih dari 2 jam untuk berkeliling dan menikmati indahnya Pulau Penyengat. Berbeda dengan pengunjung lainnya yang menggunakan jasa ojeg dengan tarif sewa Rp. 30.000 untuk keliling selama 1 jam, kami memilih berkeliling dengan berjalan kaki.  Hasilnya? Kami tersengat dan takjub dengan ‘sejarah’ yang terdapat di Pulau Penyengat.

Tersengatnya kami di Pulau Penyengat, ternodai dengan beberapa hal yang tampak sepele dan kecil, tapi akan berdampak buruk terhadap kelestarian budaya yang ada. Di beberapa titik, kami perhatikan adanya bangunan berupa rumah dan kios yang tidak terawat. Bersebelahan dengan kompleks makam menuju Benteng Bukit Kursi, terdapat bangunan permanen yang telah dibongkar dan dibiarkan begitu saja. Sebuah pertanyaan layak diajukan, mengapa bangunan itu bisa berdiri dan kemudian dibongkar? Siapa yang membangun dan bagaimana perizinannya? Di sisi lain, dekat Perigi Putri, pembangunan beberapa rumah permanen lainnya bergeliat. Jalur air dari sumur pompa, pipanya menjalar, bersinggungan dan saling bersaing antara pemilik jaringan pipa yang satu dengan pemilik lainnya. Mencerminkan ke-aku-an pemiliknya dan bertolak belakang semangat ‘para leluhur’.

Di sisi lain, gedung 2 lantai sebagai pusat oleh-oleh, masih kosong belum terpakai. Sementara area lapangan beserta panggungnya yang berada di depan Masjid Raya, menjadi tempat favorit untuk istirahat para pengojeg dan arena bermain bagi anak-anak. Hampir di semua makam, tidak ada petugas khusus yang menyambut kedatangan pengunjung. Sementara pengemudi ojeg, melaju hilir mudik menyusuri setiap ruas jalan tanpa rute yang berurut dan teratur. Kondisi di Benteng Bukit Kursi, beberapa kios tidak terpakai dan telah mengalami kerusakan. Jalan setapak yang terbuat dari pasangan bata, di beberapa titik terlepas dan renggang.

Perlu kemauan yang kuat dan kebersamaan untuk menata Pulau Penyengat sebagai Jati Diri masyarakat Kepulauan Riau.  Hingga di kemudian hari, Pulau Penyengat menjadi magnet wisata di Kota Tanjung Pinang bahkan di Provinsi Kepulauan Riau. Pembenahan antara lain menyangkut pintu gerbang di area dermaga, pompong yang dapat tampil lebih menarik dan nyaman, optimalisasi area panggung dengan penampilan kesenian lokal minimal 1 kali dalam 1 bulan dengan ekspose dan promosi di berbagai media, moratorium dan lokalisasi rumah penduduk agar tidak merambah dan meluas ke berbagai wilayah di Pulau Penyengat dan diiringi dengan penataannya yang bersifat lokal dan berjati diri ‘Gurindam Dua Belas’.

Hal lainnya yaitu mempercantik tampilan ojeg dengan warna khas Pulau Penyengat, yaitu kuning dan hijau, pengaturan jam keberangkatan dan arus laju ojeg. Perlu ditata juga adalah jaringan pipa air dengan sentralisasi, pemasangan jaringan pipa bawah tanah dan pembuatan bak kontrol. Berikutnya penataan area Benteng Bukit Kursi, Peta Pulau Penyengat yang mulai tampak kusam, dan paling pokok, menumbuhkan jati diri para penduduknya bahwa mereka adalah pewaris dari budaya luhur Pulau Penyengat, sebuah pulau yang telah diajukan untuk menjadi Situs Warisan Dunia. Keterlibatan pihak swasta harus terus ditumbuhkan dan pemerintah bisa menggagasnya antara lain melalui Program Kampung Wisata Berbasis Komunitas. Pelibatan masyarakat setempat adalah mutlak untuk menjaga kelestarian Pulau Penyengat.


Kamis, 24 Juli 2014

Meluncur Doa


I Love Damri
Kota Bandung yang terus bertumbuh, pelayanan Bis Damri semakin berkembang. Melalui Trans Metro Bandung (TMB), Damri meluncurkan bis dengan tampilan elegant. Bekerja sama dengan beberapa perusahaan swasta, Damri pun memfasilitasi layanan gratis bagi pelajar pada hari Senin dan Kamis. Dan aku, bagian dari warga Bandung yang menikmati layanan Damri sejak baheula. Menjadi bagian dari gerakan agar jalanan Bandung tidak makin heurin dan macet. Yes, I love Damri.

Jelang tengah hari, 17 Maret 2014, pukul 11.15 WIB dari halte TMD depan BCA jalan Ahmad Yani, aku naiki Damri Jalur 1 Jurusan Cicaheum – Cibeureum. Kursi otomatis terbuka. Kujejaki tangganya. Kulepas pandangan. Semua kursi terisi. Kubelah lorong barisan kursi untuk berdiri dekat kursi barisan belakang. Kemudian sebuah tiket aku tukar dengan uang sejumlah Rp. 3.000. 

Pak Jejen
Di halte Stadion Persib, naik seorang Pak Tua, penjual koran. Sementara aku berdiri, Pak Tua itu memilih duduk di bawah di depan pijakan kaki para penumpang di kursi barisan belakang. Ketika bis sampai di sekitar Pasar Kosambi, banyak penumpang yang turun. Beberapa kursi yang kosong di barisan belakang siap untuk diduduki penumpang, termasuk aku yang kemudian duduk di sebelah Pak Tua yang telah duduk lebih dulu.

Aku sampaikan obrolan kecil. Pak Tua bercerita bahwa dari Senin hingga Sabtu, berkeliling jualan koran ke beberapa kantor pemerintah, antara lain di kantor Dinas Pariwisata. Pak Tua itu bernama Jejen. Pak Jejen belum punya cucu. Selain nikah di usia yang terbilang tidak muda, kedua anaknya adalah laki-laki dan saat ini mereka masih lajang. Si cikal berusia 22 tahun dan sudah lebih dari satu tahun bekerja di bengkel. Sementara si bungsu kelas 3 SMK  jurusan mesin. Saat akan turun di perempatan Jalan Suryani, Pak Jejen sempat menyampaikan sebait doa. Aku jabat tangan Pak Jejen. 

Tiba di bunderan Cibeureum, kang Deden sudah menanti dengan motornya. Beberapa menit kemudian, aku tiba di Aula kelurahan Cijerah. Terletak di lantai atas, ruangan pelatihan masih belum terisi penuh. Peserta pelatihan belum komplit. Di bagian depan sudah terpasang sebuah spanduk. Buku tulis untuk peserta, diberi cover yang mencirikan kekhasan pelatihan yang akan digelar. Luar biasa kesiapan dan sambutan panitia. Aku berikan 1 jempol.

Pak Ojang
Lepas Maghrib, diantar kang Didi, aku bergegas menuju lampu merah perempatan Pasir Koja – Soekarno-Hatta (Bypass). Ya, aku mesti segera meluncur ke Sukabumi. Beruntung, bis Bhinneka masih menyisakan 1 kursi di bagian belakang. Aku duduk di sebelah seorang  Pak Tua. Ternyata Pak Tua itu tunarungu dan wicara. Ketika aku tanya berapa jam perjalanan Bandung - Sukabumi, Pak Tua menunjukkan 3 jarinya. Beberapa kali aku ajak bicara, Pak Tua berbicara kurang jelas dan sesekali menunjukkan pendengarannya.

Daripada diem dan ngalamun aja, berikutnya aku ajak Pak Tua untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Aku gerakkan jari tangan untuk menulis YAYAN, nama kecilku. Aduh, bahasa isyaratku payah. Beralih, aku ajak Pak Tua ngobrol dengan tulisan. Diawali dengan menulis ulang namaku. Aku minta Pak Tua menuliskan namanya. Pelan-pelan tangan kanannya menggerakan pena. Ditulisnya ‘OJANG’. Oh, itu nama Pak Tua. Pak Ojang sudah punya 3 orang cucu.

Pak Ojang aku ajak selfie pake kamera Canon. Kemudian aku perlihatkan photonya. Ternyata mata Pak Ojang sudah agak rabun. Meski begitu, Pak Ojang tampak senang banget. Beberapa kali Pak Ojang menunjukkan thumnya. Aku berikan sebuah kartu nama dan Pak Ojang menggerakkan tangannya membentuk kacamata. Mengisyaratkan bahwa penglihatannya sudah kurang bagus. Photo tadi aku pasang di laptop. Aku perlihatkan photonya dengan zoom. Aku tunjukkan gambarnya. Lama menatap sambil tersenyum, Pak Ojang mengeluarkan lagi jempolnya. Disekanya bulir titik air dari matanya. 

Jelang Ciranjang, lagu Ayah yang dilantunkan Ebiet G. Ade, menjadi penutup obrolan kami. Bispun kemudian melaju dihiasi pedagang asong yang berjualan Tahu Sumedang dan kacang goreng yang ditingkahi oleh obrolan sang sopir dengan kernetnya.

Aku perhatikan, Pak Ojang mengamati setiap sudut tempat yang dilewati bis. Sepertinya Pak Ojang sedang mencermati ‘tanda’ bangunan/tempat sebagai acuan untuk turun. Dugaanku betul, Pak Ojang mau turun di batas Kota Cianjur jelang terminal Rawabango. Pak Ojang menggerakkan tangan kanannya menyerupai kendaraan yang sedang melaju, kemudian telunjuk tangan kanannya menekan telapak tangan kirinya. Aku jabat tangan kanannya. Pak Ojangpun beranjak dari kursinya. Ketika sang kernet bertanya, Pak Ojang hanya mengangguk. Kemudian aku tegasan bahwa Pa Ojang minta turun di sini. Saat ini. Sekarang juga. Sang kernetpun menggerakkan uang logamnya, mengetuk kaca jendela sebagai sign pada sang sopir bahwa akan ada penumpang yang akan turun.

Mang Ihin
Jelang tengah malam, untuk pertama kali, aku jejakkan kaki di terminal Kota Sukabumi. Menanti Mang Ihin datang menjemput, aku dekati penjual ketan oncom. Sambil mematangkan ketannya, obrolan pun terbentuk. Sementara alunan musik dangdut, membuat asyik sebuah proses ‘pematangan ketan’ yang sedang berlangsung. Proses itu berulang kembali manakala Mang Ihin tiba dan kemudian aku pesankan 5 buah ketan.   

Mang Ihin adalah anak pertama dari adik kakekku. Pertemuan kami biasanya terjadi di Limbangan Kabupaten Garut pada saat Lebaran. Mang Ihin beserta keluarganya, menyambutku dengan suka cita. Berbagai makanan sudah disiapkan. Kamar depan, biasanya dihuni Ilham, anak pertamanya, malam ini, jadi milikku. Ilham untuk sementara bergabung dengan adiknya di kamar dekat dapur. Tak lama, akupun terlelap. Bersiap untuk esok mengisi pelmas di aula Kantor PU Kota Sukabumi.

Ketika mentari mulai menyapa, aku dan Mang Ihin keluar rumah. Mencermati lingkungan dan jalanan yang tadi malam kami lalui. Sesekali kujepretkan tombol si Canon untuk mengambil gambar. Rumah Mang Ihin ternyata dikelilingi sawah. Sepenggalan jalan menuju rumahnya, adalah buah dari gotong royong kegiatan PNPM MP tahun 2009. Kondisi jalannya masih cukup bagus. Jempol untuk BKM Ikhlas Kelurahan Sindang Sari dan Tim Faskel. Kami langkahi jalan setapak itu hingga tiba di pesantren At-Taqwa. Aku juga cermati sebuah MCK buah dari P4IP dan sedikit bergaya dekat papan proyek P4IP untuk kegiatan saluran irigasi yang terletak persis di depan Rumah Mang Ihin.  

Di pagi itu, 18 Maret 2014, menjadi hari yang lain bagi Mang Ihin. Ada aktivitas yang berbeda dari rutinitas yang selama ini dijalaninya. Ada menu yang berbeda saat sarapan dan ada teman lain saat berangkat menuju tempat kerja. Ada jejak saudara di rumahnya. Jejak yang kembali berulang setelah ayahku berkunjung 20 tahun yang lalu, saat Mang Ihin meminang istrinya. 

Doa
Itulah sebulir pengalaman. Mencoba untuk berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal, bukan hal yang mudah. Terkadang dugaan kita yang mengerdilkan niatan itu. Betapa Pak Jejen dan Pak Ojang menampakkan riangnya ditegur dan disapa sebagaimana senangnya aku bisa menegur dan menyapa. Betapa Mang Ihin memperlihatkan rasa bahagianya manakala dikunjungi sebagaimana gembiranya aku karena akhirnya bisa berkunjung dan bersilturahim ke rumahnya. Tegur dan sapa menunjukkan bahwa kita bisa berteman. Berkunjung dan bersilaturahim menunjukkan bahwa kita bisa saling memberi, berbagi dan membangun harapan. Kemudian ujung dari itu semua adalah meluncur doa.