Rabu, 06 Januari 2016

Papan Kotak Angka






Keinginan untuk memberikan hal yang berbeda dan lebih, bahkan kalau bisa memberikan hal yang terbaik, kiranya selalu tertanam mendalam pada sanubari kita. Mengeluarkan semua daya dan potensi yang dimiliki dalam setiap kesempatan, adalah bagian dari upaya untuk mengasah, mengokohkan dan menajamkan sebuah perbuatan baik. Menancapkan niat yang banyak dalam setiap kegiatan, adalah awal untuk tumbuh ikhlas dan lapang dada terhadap proses yang berlangsung dan hasil yang dapat diraih serta dampak yang akan ditimbulkannya. Salah satunya, kita terapkan dalam kegiatan pelatihan masyarakat (pelmas) atau dengan bahasa kekinian disebut PKM (Peningkatan Kapasitas Masyarakat).

Berbekal pembelajaran yang diperoleh bersama penggiat di Studio Driya Media (SDM), sebuah lembaga di Bandung yang bergerak dalam bidang pendidikan, pelatihan dan penelitian, dipadupadankan dengan sebuah media permainan bertema lingkungan yang dicetak oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) dan media bantu FGD yang digagas Konsultan Monitoring dan Evaluasi (KME), pada tahun 2015, maka lahirlah Papan Kotak Angka yang saya siapkan sebagai media bantu dalam kegiatan PKM di dampingan Tim 6, 12 dan 17 Kota Bandung. Sebuah nama yang mungkin belum pas. Disebut Ular Tangga tidak bisa karena tidak ada ular dan juga tidak ada tangganya. Perintahnya juga bukan naik atau turun, melainkan maju atau mundur. Ada ide?

Papan Kotak Angka ini terdiri dari 5 kotak mendatar dan 7 kotak menurun, total 35 kotak yang berisi angka dan kalimat. Kotak yang berisi angka berwarna biru muda, sementara kotak yang berisi kalimat, berwarna merah untuk kondisi negatif dan berwarna hijau untuk kondisi positif. Warna kuning disematkan di “Kotak Mulai”. Sementara “Kotak Selesai” bernuansa biru tua. Warna hitam dikhususkan untuk angka dan huruf. Semuanya hanya pilihan warna saja. Anda mau warna yang berbeda? 

Cita-citanya ingin ada gambar dalam setiap kotak yang berisi kalimat. Sudah dipilah dan dipilih beberapa gambar yang ada pada beberapa file bahan pelatihan waktu masih aktif sebagai fasilitator hingga koorkot. Tapi tidak cukup keahlian untuk melakukannya. Maka, biarlah untuk sementara waktu, hanya berisi angka dan kalimat. Mudah-mudahan ada pihak yang berkenan untuk memperkaya dan melengkapi media bantu ini. Bukan hanya soal gambarnya, tapi juga tentang muatannya. Buka hanya terbatas pada tupoksi UP dan sekretaris, melainkan bisa digagas juga sebagai media bantu untuk kegiatan/program lainnya.

Pelaksanaan 1.
Penggunaan pertama kali media bantu Papan Kotak Angka, terlaksana dalam Pelatihan Penguatan UP dan Sekretaris Tim 6 Kota Bandung pada Minggu, 20 Desember 2015. Papan Kotak Angka dibuat H-1. Materinya fokus dengan bahasan Mediawarga. Materi diikuti oleh seluruh peserta dengan jumlah kurang lebih 40 orang. Begitu tiba di lokasi pelatihan, hal pertama yang menjadi perhatian adalah bagaimana menjalankan permainan Papan Kotak Angka itu dengan peserta yang banyak. Ketika diminta duduk di depan, di hadapan seluruh peserta, pikiran berikutnya adalah, bagaimana cara mengikutsertakan seluruh peserta dalam permainan tersebut. Dadu dan pion hanya tersedia 2 buah. Sementara tempat kocokan hanya ada 1 buah. Lembar permainan Papan Kotak Angka aman, tersedia 5 lembar.

Langkah dimulai dengan membagi seluruh peserta dalam 5 kelompok. Hanya dua kelompok yang mendapat dadu dan pion. Tiga kelompok lainnya, dadu diganti dengan 6 lembar lipatan kertas kecil yang berisi angka 1 sampai dengan angka 6  dan pion diganti dengan tutup pulpen. Secara bergilir, setiap kelompok diberikan arahan.  Ketika pion menginjak kotak yang berisi kalimat, setiap kelompok berdiskusi untuk memberikan tanggapan.  Setiap tanggapan ditulis oleh salah satu peserta. Setelah 60 menit, permainan dinyatakan closed. Selanjutnya perwakilan dari setiap kelompok memaparkan hasil diskusinya.  Paparan setiap kelompok langsung ditayangkan dengan media bantu infocus.

Dalam pelaksanaan pertama, setiap kelompok dapat mencapai “Kotak Selesai”. Umumnya lemparan dadu atau pilihan angka, jatuh di "Kotak Angka”, kotak yang tidak memuat kalimat/pernyataan. Sekilas dari hasil pengamatan, ada sebagian peserta yang ingin cepat selesai dengan cara menghindari “Kotak Kalimat”. Lieur, katanya. Kesimpulan dari pelaksanaan 1 : kurang memuaskan.

Pelaksanaan 2.
Lepas dari pelatihan dampingan Tim 6, berikutnya bergerak ke dampingan Tim 12. Pelatihan penguatan UPS dampingan Tim 12 dilaksanakan di aula kelurahan Arjuna kecamatan Cicendo yang diikuti 8 orang UPS perwakilan dari 4 kelurahan. Peserta duduk melingkar, sementara di tengah lingkaran, di atas sebuah kursi, diletakkan selembar Papan Kotak Angka, sebuah dadu, sebuah pion dan wadah untuk kocok dadu.

Permainan dimulai setelah disampaikan aturan mainnya. Seorang ibu mengocok dadunya. Kemudian ia langkahkan pionnya. Ahaaaa.....pionnya menginjak “Kotak Kalimat”. Ibu tadi saya cekoki beberapa pertanyaan sesuai tema yang tercantum dalam kalimat tersebut. Selepas ibu itu, pertanyaan berikutnya saya ajukan pada peserta berikutnya secara berurut. Di lain kesempatan, diajak peserta untuk memberikan tanggapan berupa sanggahan atau pendalaman terhadap jawaban yang sudah disampaikan peserta sebelumnya. Tak ketinggalan di akhir bahasan dari 1 “Kotak Kalimat”, disampaikan penguatan/penajaman. Tampak beberapa peserta mencatat jawaban dari peserta lainnya.

Tak terasa, waktu 1 jam berlalu.  Canda dan tawa hadir dalam riungan tersebut. Sesekali tawa meledak cukup keras, manakala dadu memerintahkan pion untuk mundur beberapa langkah dari kotak sebelumnya. Kesimpulan pelaksanaan ke-2 : memuaskan.

Pelaksanaan 3.
Semula pelatihan di Tim 17 pada 29 Desember 2015, akan dilepas. Tapi menjadi sebuah tantangan tersendiri. Tantangan yang mengasyikkan. Sangat layak untuk dituntaskan. Apalagi sudah deal. Sudah berjanji untuk hadir. H-1, materi dikebut. Media bantu Papan Kotak Angka direvisi. Disiapkan 2 jenis Papan Kotak Angka. Alhamdulillah, rengse.

Pelatihan yang dilaksanakan di SDN Cigondewah Kaler, diikuti lebih dari 30 orang. Peserta dibagi dalam 2 kelompok. Di sebelah kiri, duduk berbaris perwakilan dari UPK dan sekretaris. Tampilannya cukup sejuk dan damai. Seorang pria menjadi satu-satunya peserta paling kasep di barisan tersebut. Sementara di sebelah kanan dengan jumlah yang lebih banyak, duduk berbaris UPL dan UPS. Tampilannya cukup mengejutkan dan siap menerkam lawan.

Dadunya gimana? Dalam 1 lembar kertas, dibuat 6 kotak yang berisi angka 1 hingga angka 6. Kertas tersebut ditempel di lantai di hadapan barisan kelompok. Setiap barisan/kelompok menyiapkan sebuah koin bernilai 500 rupiah. Koin dilemparkan ke kertas tersebut. Jika jatuh di kotak angka 3, maka jadilah dadu dengan angka 3. Bagaimana dengan pionnya? Seorang peserta diminta menjadi pion. Peserta tersebut akan berjalan di atas 35 ubin lantai, kalau sempat tuntas dan mencapai “Kotak Selesai”. Tiga puluh lima ubin lantai ditempeli lakban yang sudah diberi nomor 1 hingga 35. Langkah berikutnya, infocus siap menayangkan lembar Papan Kotak Angka sebagai panduan.

Permainan dimulai, eh....pelatihan.  Kelompok UPK dan sekretaris mengawali pelatihan. Koin dilempar. Jatuh di angka 4. Peserta yang bertugas menjadi pion, sekretaris BKM kelurahan Cibuntu, bergerak maju menuju ubin yang berlabel angka 4. Peserta memperhatikan lembar Papan Kotak Angka, ternyata ada kalimat di kotak angka 4. Sepuluh pertanyaan, beberapa di antaranya sudah disiapkan terlebih dahulu, langsung diajukan pada kelompok UPL dan UPS.

Demikian terus berlanjut. Koin dilempar, sebuah angka terpilih. Sang pion bergerak. Pertanyaan diajukan. Jawaban pun meluncur. Ada yang kurang sigap dalam menyiapkan pertanyaan, muncullah pertanyaan apa adanya agar kuota 10 pertanyaan terpenuhi. Ada yang kebingungan untuk memberikan jawaban, hadirlah “haha hihi” dan teriakan “huuuuuu”. Sang pion letih berdiri, kursipun diberikan.

Ketika kumandang adzan Dhuhur bergema, permainanpun dihentikan. Berikutnya disampaikan penjelasan dari beberapa “Kotak Kalimat” yang tidak terbahas. Juga pendalaman dari “Kotak Kalimat”  yang sudah terbahas. Kesimpulan pelaksanaan ke-3 : cukup puas.

Pelaksanaan 4.
Mudah-mudahan Anda berkenan untuk mencobanya. Media bantu ini, silakan dikoreksi, dilengkapi dan disempurnakan. Agar makin menarik minat peserta dan makin asyik pelatihannya. Moga bermanfaat. Terima kasih.

Senin, 02 November 2015

Keripik JADUNG




Ibu Eka Fujawati, 45 tahun, sebelumnya tidak menyangka bahwa usahanya membuat keripik singkong akan bertahan lama. Usaha keripik singkong dirintis bersama suami dan anaknya sejak tahun 2007 dengan adanya bantuan dari program Bawaku (Bantuan Walikota Kredit Usaha) yang digulirkan oleh Walikota Bandung Drs. Dada Rosada. Melalui program Bawaku, diperoleh bantuan modal sejumlah Rp. 500.000. Selanjutnya usaha tersebut berkembang dengan adanya suntikan pinjaman bergulir sejumlah Rp. 2.000.000 dari UPK BKM Bina Karya kelurahan Garuda kecamatan Andir. 

Produk yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri. Keripik yang dihasilkan berbentuk keriting, tidak seperti umumnya keripik singkong lain yang selama ini beredar di masyarakat. Melalui tahapan pengupasan singkong, kemudian disugu, digoreng, dispinner/disaring minyaknya, kemudian diberi bumbu aneka rasa, dan tahapan terakhir dimasukkan dalam kemasan dan diberi label, keripik singkong yang diberi nama JADUNG ini, tak bisa dipandang sebelah mata dan layak untuk disandingkan dengan Keripik Ma Icih dan Karuhun. Dua branch mark keripik singkong di Kota Bandung yang sangat terkenal dalam 2 tahun belakangan ini.

Keripik JADUNG masih diproduksi dengan peralatan sederhana, yaitu menggunakan 2 buah sugu yang dibuat sendiri oleh suaminya yang merangkap juru masak, 2 buah katel, susuk dan serok, kemudian spinner 1 unit, mesin molen pembuat bumbu 1 unit dan timbangan digital. Keripik JADUNG berhasil meraih prestasi sebagai Juara Kategori III Lomba Olahan Hasil Pertanian yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung pada tahun 2013. Pada tahun yang sama, keripik JADUNG pernah mengikuti kegiatan Pameran Industri Pertanian  Pangan dan Perikanan. Dalam pengembangan usahanya, Ibu Eka  mendapat pembinaan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung sejak tahun 2013. Pembinaan antara lain dalam pengembangan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan.

Berlokasi di kelurahan Garuda kecamatan Andir, produksi Keripik JADUNG dihasilkan dari 2 tempat yang berbeda. Rumah tinggal yang saat ini ditempati, difungsikan untuk tahapan produksi pengupasan, penyuguan dan packaging. Sementara ruang kecil di rumah orang tua Ibu Eka, masih dalam lingkungan RT yang sama, difungsikan sebagai tempat penggorengan dan pengeringan.  

Memiliki 6 rasa, yaitu original, balado, rendang, jagung manis, asin pedas dan keju, Keripik JADUNG dipasarkan oleh mahasiswa di beberapa kampus (Unpad, UPI, Widyatama), kemudian pegawai yang bekerja di beberapa SKPD, LAN, Pabrik Ceres, PT Inti, Bank BJB, coffea dan restoran (Rumah Makan Laksana dan Ampera), hotel Cipaku dan toko kue Erlanda. Ibu Eka memiliki impian, usaha yang dirintisnya dapat terus maju, antara lain ditandai dengan bertambahnya tenaga kerja menjadi 10 – 20 orang dari semula 3 orang, kemudian kapasitas produksi dari semula 20 kg menjadi 100 kg dan dapat berproduksi 100 bungkus/hari. 

Adanya program BDC (Bussines Development Center) di Kota Bandung, memberikan harapan untuk terwujudnya impian Ibu Eka. Melalui BDC, diharapkan ada peningkatan kualitas produksi dan kemasan keripik JADUNG serta peningkatan keterampilan tenaga kerja yang dibinanya. Ibu Eka berharap agar BDC dapat menjembatani KSM untuk lebih maju dan mandiri.

Kamis, 03 September 2015

Jangan Serakah !!!!



 

Siapa sangka sebagai “peserta gelap”, tetapi menemukan banyak manfaat dari gelaran acara FGD Tentang Pedoman Umum Percepatan Penciptaan Wirausaha Baru di Kota Bandung. Dilaksanakan di sebuah Hotel berbintang 4, dihadiri perwakilan berbagai dinas/badan di lingkungan pemkot, praktisi wirausaha, perguruan tinggi, diselingi sajian makanan ringan dan tawaran minuman kopi/teh, acara FGD yang berlangsung pada 26 Agustus 2015 itu, ditingkahi pertanyaan dari beberapa peserta.

FGD diawali dengan paparan oleh Ferry, Fakultas Ekonomi Unpad, HP 0811239747, yang menyampaikan bahwa Target 100.000 wirausaha baru adalah tanggung jawab bersama yang akan memberikan dampak terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi. Bandung dikenal sebagai kota yang memiliki banyak inovator dan sebagai cikal bakal ekonomi kreatif di Indonesia. Tumbuhnya wirausaha baru, mesti disertai iklim usaha yang mendukung dan mekanisme pasar yang tidak saling merugikan. Harus ada kolaborasi agen pembangunan antara pemkot dengan masyarakat dan swasta, dengan kota/kabupaten dalam 1 provinsi, dengan provinsi, dengan kota/kab lain provinsi, dengan pusat, dan dengan luar negeri. Hal yang mesti ditanggulangi adalah, jangan sampai wirausaha baru mencari modal dari rentenir. Percepatan Pencitaan Wirausaha Baru mengupayakan peran pemerintah yang dapat mengendalikan pasar sektor informal agar ada keseimbangan dan keterpenuhan antara demand (distribusi pendapatan, kemiskinan dan harga) dan supply (penggangguran, gaji/upah, dan keinginan membuka usaha). Keberadaan PKL di kota Bandung demikian menggurita, ada di pertokoan, pasar, pusat perbelanjaan modern/mall, Rumah Sakit, pusat pendidikan, perumahan/permukiman, Sarana Olah Raga, bahkan hingga sekitar lokasi ibadah.

Paparan berikutnya disampaikan oleh Fajar dari Bappeda. Disampaikannya tentang pemetaan Kota Bandung, latar belakang disusunnya Perwal, ketidakseimbangan penyerapan tenaga kerja, target dan tujuan,  serta kegiatan yang direncanakan dan penanggung jawab teknis dalam percepatan penciptaan wirausaha baru.

Paparan yang cukup ‘renyah’ dan disampaikan penuh gairah adalah materi dari Kukuh Indrapasena, mewakili Young Enterepreneur Academy (YEA), Website : yea-indonesia.com. YEA perintisannya dilaksanakan di Batam pada tahun 2007, kemudian dialihkan di Jakarta pada tahun 2009 dan selanjutnya ditetapkan pusat kegiatannya di Bandung pada tahun 2010. YEA fokus pada pencitaan wirausaha baru. Hambatan dalam penumbuhan wirausaha baru berkaitan dengan pengetahuan, teknologi, akses pasar, regulasi dan permodalan.

Kang Kukuh menyampaikan beberapa program yang telah dilaksanakan YEA, yaitu YEA Virtual, layanan pembelajaran jarak jauh, 2.000 peserta belajar aktif, YEA Capital, berbasis syariah, pitching, rembug, TJ bersama, bussines plan sederhana, YEA Xpro, pelayanan rintisan usaha bagi pensiunan dan yang terkena PHK, YEA Reguler , pembinaan pemuda untuk berwirausaha, 90% jadi wirausaha, usia 17-35 th, YEA Comdev, pembinaan lanjutan bagi pemuda untuk berwirausaha, YEA ecamP , pembinaan di berbagai daerah dan LN, 4.000 alumni tersebar di Indonesia dan YEA yukbisnis.com : layanan usaha medsos, 53.000 anggota. Toko online GRATIS.

Renyahnya materi dilanjutkan oleh Jaya Setiabudi, YEA, HP. 0819818919. Diawali dengan sebuah prinsip yang dijalaninya bahwa mendidik anak dengan tidak mewariskan harta dalam jumlah banyak, melainkan secukupnya dan dengan mendorong kemandirian sang anak. Mas Jaya menyebutkan bahwa Program YEA berketetapan untuk Anti kapitalis, anak-anaknya sekolah formal hanya hingga SD, dilanjutkan dengan Home Schooling.

Dalam menjalankan usaha, disampaikan agar berpedoman pada “Bagilah keuntunganmu pada orang lain”, “Ambillah jatah ‘sejahteramu’, jangan serakah!!!”. Jika sudah tergambar ada keuntungan, jangan lantas berkeinginan untuk menguasai suatu produk dari hulu ke hilir. Umpama seorang pengusaha keripik pisang. Dia berjualan secara online. Keripik pisang yang sudah jadi, dibelinya dari ibu-ibu rumah tangga. Kemudian diberi kemasan yang menarik. Upaya berbagi keuntungan adalah mendekatkan petani pisang ke tempat produksi kepada ibu-ibu yang membuat kripik pisang, sehingga petani terhindar dari tengkulak yang membeli hasil panen pisangnya dengan harga rendah.  Jangan serakah dengan cara membeli langsung ke petani, mengolah/membuat sendiri keripik pisang sehingga ibu-ibu tadi kehilangan/berkurang penghasilannya, mengemas sendiri sehingga di sisi lain pengusaha kemasan kekurangan order, kemudian menjualnya sendiri karena ingin laba yang lebih besar. Cara berbagi keuntungan lainnya adalah dengan menumbuhkan reseller baru sebelum produk sampai ke konsumen. Jangan Serakah !!!

Selasa, 28 Juli 2015

Membumikan BNI 46 di Kota Bekasi



Bertugas sebagai Koordinator PNPM MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarkat – Mandiri Perkotaan), di Kota Bekasi sejak April 2009 sd April 2013, tak lepas dari adanya kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan BNI 46.

Kerja sama ini diawali dalam sebuah diskusi singkat dengan Tim Marketing BNI 46 Kota Bekasi selepas kegiatan sosialisasi Kredit UKM pada Agustus 2010 di aula kelurahan Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede. Disampaikan beberapa hal yang memungkinkan terjadinya kerja sama saling menguntungkan di antara kedua pihak,  baik untuk masyarakat melalui lembaga BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang mengelola PNPM MP di tingkat kelurahan, maupun pihak BNI 46.

Langkah berikutnya Tim PNPM MP Kota Bekasi diminta oleh Tim Kampung BNI 46 untuk melakukan identifikasi terhadap berbagai kegiatan usaha yang dilakukan oleh kelompok masyarakat binaan PNPM MP.  Imbal dari kegiatan tersebut, BNI 46 berkenan untuk menjadi mitra utama dalam kegiatan Sosialisasi Kampanye dan Bazaar (Soskamzar) PNPM MP Kota Bekasi di 8 kelurahan lokasi PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu) Tahap III yang dilaksanakan mulai 7 November 2010 sampai dengan 12 Desember 2010.

Kegiatan Soskamzar dilaksanakan di kelurahan Arenjaya dan Durenjaya kecamatan BekasiTimur, kelurahan Margajaya dan Pekayon Jaya kecamatan Bekasi Selatan, kelurahan Jatisari kecamatan Jatiasih, kelurahan Perwira kecamatan Bekasi Utara, kelurahan Jatiraden kecamatan Jatisampurna, dan kelurahan Jatiwaringin Kecamatan Pondok Gede.  

Soskamzar diikuti oleh beberapa mitra, selain BNI 46, yaitu BJBS, BRI, KSP Swamitra, Adira Finance, Asuransi Prudential, PT. Wing Foods, Lembaga Kursus PEC, permen Go Fresh, Vermint dan Stimuno, Radio 8EH, Yayasan Granada, makanan sehat Milenia, Teh Poci, dan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) binaan BKM. Soskamzar diisi dengan aneka lomba dan games, marching band, hiburan musik dan puisi, bantuan sembako, bazaar produk KSM, dan melayani pembukaan rekening.

Selepas Soskamzar, kerja sama lebih erat dijajagi dengan diadakannya kegiatan pertemuan antara Tim Marketing BNI 46 dengan beberapa BKM di kecamatan Jatiasih dan Pondok Gede. Hasil dari pertemuan tersebut antara lain kesepakatan untuk fasilitasi pembukaan rekening BKM dan KSM di cabang BNI 46 terdekat. Kerja sama BNI 46 dan BKM di dua kecamatan tersebut, berlanjut dalam kegiatan Lokakarya Kecamatan dan fasilitasi kredit bagi UKM/KSM.

Kerja sama berikutnya adalah dalam acara Gelar Karya PNPM MP Kota yang dilaksanakan pada 21 dan 22 Juli 2011. Bertempat di Balai Patriot Komplek Kantor Walikota, Gelar Karya dilaksanakan sebagai bentuk sosialisasi massal di tingkat kota. Acara Gelar Karya diikuti oleh seluruh kelurahan yang tergabung dalam stan masing-masing kecamatan. Turut hadir pula stan Korkot, Kapermas, STMIK Bani Saleh, Unisma, BNI 46, RS Jatimulya, Sari Sedap dan KSM binaan BKM. Selain menampilkan program, progres dan kegiatan, ditampilkan pula produk unggulan KSM/kelompok binaan dari setiap wilayah. Kerja sama dengan BNI 46 terus berlanjut dalam pelaksanaan Gelar Karya II pada tahun 2012 dan Gelar Karya III pada tahun 2103.

Selain dalam kegiatan Sosialisasi Kredit UKM, Soskamzar dan Gelar Karya, BNI 46 Kota Bekasi berpartisipasi dengan memberikan bantuan dana untuk kegiatan infrastruktur rehab rumah di kelurahan Durenjaya dan pembangunan jalan rabat beton di kelurahan Jatisari, kegiatan Gebyar Amal dan Lomba kelurahan Jatikramat, kegiatan khitanan dalam rangka ulang tahun BNI 46 dan memfasilitasi kredit pada warga binaan PNPM MP yang memiliki UKM di kelurahan Durenjaya, Jatisari dan Jatiwaringin. BNI 46 juga turut berperan mensukseskan program lokal Kota Bekasi, DBHSPI (Dana Bantuan Hibah Stimulan Pembangunan Infrastruktur) tahun 2011 dan berubah menjadi P3BK (Program Pembangunan Partisipatif Berbasis Komunitas) pada tahun 2012 hingga sekarang.

berita terkait :